SBCNews.id JAKARTA – Pergerakan nilai tukar rupiah masih dipengaruhi berbagai sentimen global dan domestik. Di tingkat internasional, perhatian pasar tertuju pada perkembangan situasi di kawasan Selat Hormuz yang kembali memicu kekhawatiran terhadap stabilitas geopolitik.
Laporan media nasional Iran, IRIB, pada Selasa (7/7) menyebutkan kapal Qatar Al-Rekayyat berupaya melintasi Selat Hormuz melalui jalur Oman dengan pengawalan Angkatan Laut Amerika Serikat. Kapal tersebut dilaporkan menjadi sasaran serangan setelah sebelumnya menerima sejumlah peringatan.
Di sisi domestik, sentimen positif datang dari peningkatan cadangan devisa Indonesia. Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi cadangan devisa pada akhir Juni 2026 mencapai 145,6 miliar dolar AS, meningkat sekitar 700 juta dolar AS dibandingkan posisi akhir Mei 2026 yang sebesar 144,9 miliar dolar AS.
Kenaikan cadangan devisa tersebut terutama didorong oleh penerimaan pajak dan penerimaan dari sektor jasa. Posisi cadangan devisa yang tetap kuat dinilai mampu mendukung stabilitas sektor eksternal serta menjaga ketahanan ekonomi nasional di tengah dinamika pasar keuangan global.
Pelaku pasar diperkirakan masih akan mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah serta berbagai indikator ekonomi domestik sebagai faktor yang memengaruhi arah pergerakan nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu ke depan.



