SBCNews.id — Asosiasi Kontraktor Nasional (Askonas) menegaskan komitmennya memperkuat organisasi sekaligus mendorong transformasi dunia jasa konstruksi nasional agar semakin profesional, adaptif terhadap teknologi, dan berdaya saing.
Komitmen tersebut mengemuka dalam Musyawarah Nasional (Munas) IV Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Askonas yang digelar di Hotel Santika Surabaya, Jumat (14/8/2026).
Munas IV dibuka Ketua Umum DPP Askonas, Sidik Pramono, dengan mengusung tema “Transformasi dan Sinergi Kontraktor Nasional Menuju Ekosistem Jasa Konstruksi yang Profesional, Digital, Hijau, dan Berdaya Saing untuk Indonesia Emas 2045”. Semangat yang dibangun adalah “Kontraktor Nasional Tangguh, Indonesia Maju.”
Munas tersebut diikuti 18 Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Askonas secara langsung. Sementara DPD Askonas dari berbagai daerah di Indonesia turut mengikuti agenda nasional tersebut secara daring.
Dalam sambutannya, Sidik menegaskan bahwa kekuatan Askonas sejak awal berdiri bertumpu pada kebersamaan dan silaturahmi antarpengurus serta anggota.
“Semangat kebersamaan itulah yang menjadi kekuatan Askonas hingga mampu melewati berbagai tantangan dan mendapatkan pengakuan serta akreditasi sebagai organisasi jasa konstruksi,” ujar Sidik.
Menurut dia, perkembangan teknologi dan komunikasi yang semakin pesat tidak boleh menghilangkan nilai-nilai kebersamaan yang selama ini menjadi fondasi organisasi.
Kemajuan digital, kata Sidik, justru harus dimanfaatkan untuk memperkuat komunikasi, meningkatkan profesionalisme, serta memperluas kontribusi Askonas terhadap pembangunan nasional.
“Teknologi tidak boleh menghilangkan semangat kebersamaan, silaturahmi, dan perjuangan yang menjadi fondasi Askonas sejak awal berdiri,” tegasnya.
Sidik berharap Munas IV menjadi momentum kebangkitan Askonas untuk kembali tampil sebagai organisasi yang kuat, solid, profesional, dan mampu memberikan manfaat lebih besar bagi anggota maupun dunia jasa konstruksi Indonesia.
Hormati Para Pendiri
Dalam kesempatan tersebut, Sidik juga mengajak seluruh peserta Munas untuk mengenang jasa para pendahulu yang telah membangun Askonas sejak awal.
Ia menyebut sejumlah tokoh yang telah memberikan dedikasi bagi organisasi, termasuk Ketua Pendiri sekaligus Ketua Umum pertama Askonas, almarhum Rahmatullah, serta sejumlah tokoh lainnya seperti almarhum Bambang, Reno dan Hasan.
Menurut Sidik, perjuangan para pendahulu tersebut harus menjadi inspirasi bagi generasi penerus untuk menjaga sekaligus mengembangkan Askonas.
“Kita patut memberikan penghormatan yang setinggi-tingginya kepada para pendahulu tersebut. Perjuangan dan dedikasi mereka harus menjadi teladan sekaligus motivasi bagi kita untuk melanjutkan perjuangan Askonas,” katanya.
Ia menambahkan, Askonas memiliki jaringan organisasi di berbagai daerah sehingga kekuatan tersebut harus dijaga melalui konsolidasi dan sinergi seluruh jajaran.
“Tujuan kita semua jelas, yaitu menjadikan Askonas kembali bangkit, besar, kuat, dan mampu memberikan manfaat yang lebih luas bagi seluruh anggota serta dunia jasa konstruksi nasional,” ujarnya.
Munas Bukan Sekadar Pergantian Kepemimpinan
Sementara itu, Ketua Panitia Munas IV Askonas, Mohammad Hamzah, mengatakan pelaksanaan Munas menjadi momentum penting untuk memperkuat konsolidasi organisasi dan menyatukan langkah seluruh jajaran Askonas.
Ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan sehingga Munas IV dapat terlaksana dengan lancar.
“Munas keempat ini menjadi momentum penting sekaligus wujud semangat kebersamaan yang telah terbangun sejak Askonas berdiri,” kata Hamzah.
Menurutnya, dinamika industri konstruksi menuntut kontraktor nasional tidak hanya mampu menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga memiliki kompetensi, profesionalisme, dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Peningkatan standar keselamatan kerja dan kebutuhan terhadap sumber daya manusia yang kompeten, lanjut dia, telah mengubah cara industri konstruksi merencanakan dan melaksanakan pembangunan.
Karena itu, kontraktor dituntut meningkatkan profesionalisme, menjaga mutu dan keselamatan kerja, memanfaatkan teknologi digital, menerapkan prinsip pembangunan berkelanjutan, serta membangun tata kelola usaha yang sehat dan berintegritas.
“Munas bukan sekadar forum untuk memilih kepemimpinan dan menyusun kepengurusan. Munas merupakan ruang evaluasi sekaligus momentum untuk merumuskan langkah-langkah strategis Askonas dalam menjawab berbagai perubahan di industri konstruksi,” jelasnya.
Hamzah menekankan pentingnya membangun sinergi antara pemerintah, badan usaha jasa konstruksi, lembaga pendidikan, lembaga sertifikasi, serta seluruh pemangku kepentingan.
Sinergi tersebut diharapkan mampu menciptakan ekosistem konstruksi yang lebih sehat dan adil, meningkatkan daya saing anggota, memperkuat kontraktor kecil dan menengah, serta mendorong tumbuhnya industri konstruksi nasional yang mandiri dan berkelanjutan.
Fokus pada Kompetensi hingga Konstruksi Hijau
Munas IV Askonas juga diharapkan menghasilkan keputusan yang tidak berhenti sebagai dokumen organisasi, tetapi diterjemahkan ke dalam program kerja yang konkret, terukur, dan memberikan manfaat nyata bagi anggota.
Sejumlah agenda strategis menjadi perhatian, mulai dari peningkatan sertifikasi dan kompetensi tenaga kerja, digitalisasi usaha, penerapan teknologi konstruksi, peningkatan keselamatan dan kesehatan kerja, hingga perluasan akses pembiayaan bagi kontraktor.
Selain itu, penguatan kemitraan serta penerapan konsep konstruksi hijau dan rendah karbon juga dinilai penting untuk menjawab tuntutan pembangunan yang semakin berorientasi pada keberlanjutan.
Dengan konsolidasi organisasi dan sinergi seluruh pemangku kepentingan, Askonas menargetkan lahirnya kontraktor nasional yang semakin profesional, tangguh, adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta memiliki daya saing tinggi.
Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari kontribusi Askonas dalam mendukung pembangunan nasional dan mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.



