SBCNews.id – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Surabaya menggelar kegiatan KPU Surabaya Sholawat sebagai bagian dari program Sosialisasi Pendidikan Pemilih Berkelanjutan 2026, dengan menyasar segmen pemilih kelompok keagamaan. Kegiatan ini menggandeng Jamaah Sholawat Nariyah (Jasnu) Surabaya pimpinan KH Mujib Umar, di kantor KPU Kota Surabaya, Senin (26/10/2026) malam.
Ratusan jamaah Jasnu yang mengenakan seragam hitam memadati lokasi kegiatan. Acara tersebut juga dihadiri sejumlah ulama, di antaranya KH Mas Sulaiman Nur, Prof KH Achmad Muhibbin Zuhri, KH Sholahuddin Azmi, Ketua KPU Kota Surabaya Soeprayitno, Subairi, serta Ketua BAZNAS Surabaya H. Muhammad Hamzah bersama jajaran ulama dan tokoh keagamaan lainnya.
Kegiatan yang memadukan sholawat, silaturahmi, dan pendidikan pemilih ini menjadi upaya KPU Surabaya untuk membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya partisipasi dalam kehidupan demokrasi melalui pendekatan keagamaan.
Ketua KPU Kota Surabaya, Soeprayitno, menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Meski pelaksanaannya harus berpindah tempat karena hujan, hal itu tidak mengurangi semangat jamaah untuk mengikuti acara.
“Syukur alhamdulillah, kita bisa bersilaturahmi melalui kegiatan ini, meskipun harus pindah tempat karena hujan. Malam ini hujan perdana yang menjadi harapan kita semua. Insya Allah membawa berkah,” ujarnya.
Menurut Soeprayitno, kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut dari ketentuan KPU mengenai partisipasi masyarakat, khususnya pada segmen kelompok keagamaan. Melalui kegiatan semacam ini, KPU berharap pendidikan pemilih dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas dan menyentuh nilai-nilai yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Ia juga menyampaikan ucapan selamat Hari Santri, meskipun peringatannya telah berlalu. Menurutnya, keterlambatan tersebut tidak mengurangi makna penghormatan terhadap peran santri dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Insya Allah, kegiatan malam hari ini membawa berkah,” katanya.
Memilih dengan Niat Ibadah, Bukan Mengharap Imbalan
Salah satu bagian penting dalam kegiatan tersebut adalah tausiyah sekaligus pendidikan pemilih yang disampaikan Prof KH Achmad Muhibbin Zuhri. Dalam pemaparannya, ia mengajak jamaah melihat partisipasi dalam pemilihan umum tidak hanya sebagai kewajiban warga negara, tetapi juga sebagai perbuatan yang dapat bernilai ibadah apabila dilandasi niat yang benar.
Ia menjelaskan, keikutsertaan dalam pemilu, mulai dari menggunakan hak pilih hingga berpartisipasi dalam kegiatan kampanye secara baik dan bertanggung jawab, perlu didasari motif yang benar.
Menurutnya, nilai suatu perbuatan tidak semata-mata ditentukan oleh bentuk atau aktivitas yang dilakukan, tetapi juga oleh niat yang melatarbelakanginya.
“Nilai suatu amal bergantung pada niatnya. Karena itu, partisipasi dalam pemilu harus dilandasi niat yang baik,” demikian inti pesan tausiyah yang disampaikan.
Prof Muhibbin juga mengingatkan agar masyarakat tidak menjadikan keuntungan pribadi sebagai tujuan utama dalam menentukan pilihan politik. Praktik politik transaksional, termasuk memilih karena mengharapkan imbalan atau uang dalam praktik yang dikenal sebagai serangan fajar, bertentangan dengan semangat memilih secara bertanggung jawab.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa suara pemilih memiliki nilai penting bagi masa depan masyarakat. Karena itu, pilihan politik semestinya diberikan berdasarkan pertimbangan yang matang, bukan karena tekanan, kepentingan sesaat, ataupun iming-iming materi.
Perkuat Pendidikan Pemilih Berbasis Keagamaan
Melalui KPU Surabaya Sholawat, KPU Kota Surabaya berupaya memperluas pendidikan pemilih dengan melibatkan ulama dan komunitas keagamaan sebagai mitra strategis. Pendekatan ini diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran bahwa demokrasi tidak berhenti pada kegiatan mencoblos saat pemilu, tetapi juga berkaitan dengan tanggung jawab moral dalam menentukan pemimpin.
Keterlibatan Jasnu Surabaya dan para ulama menjadi ruang silaturahmi sekaligus sarana menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga integritas, menolak politik uang, serta berpartisipasi dalam pemilu secara jujur dan bermartabat.
Dengan menggabungkan nilai spiritual dan pendidikan demokrasi, KPU Surabaya berharap masyarakat semakin memahami bahwa partisipasi politik bukan sekadar hak konstitusional, melainkan juga bentuk tanggung jawab terhadap masa depan bangsa.
Kegiatan malam itu pun menjadi momentum untuk mempererat hubungan antara penyelenggara pemilu, ulama, dan masyarakat, sekaligus meneguhkan harapan agar demokrasi berjalan dengan penuh kesadaran, kejujuran, dan keberkahan.
