Sebanyak 34.622 rumah terdampak, sementara 1.301 warga masih mengungsi di posko dan 7.091 lainnya mengungsi mandiri.
Bupati Manggarai, Nusa Tenggara Timur, Herybertus Nabit, menetapkan rekonstruksi rumah warga lanjut usia atau lansia sebagai prioritas penanganan pascagempa bumi yang terjadi pada Agustus 2026. Kebijakan itu disampaikan saat ia ditemui di Posko Tanggap Darurat Kabupaten Manggarai, Ruteng, pada Minggu malam.
Herybertus mengatakan gempa tersebut menghancurkan rumah sejumlah lansia. Kondisi itu dinilai membutuhkan perhatian khusus karena para warga lanjut usia tidak lagi memiliki kemampuan yang memadai untuk bekerja dan mengumpulkan biaya pembangunan rumah secara mandiri.
Menurut dia, kerusakan tempat tinggal memberikan dampak besar terhadap kondisi psikologis kelompok lansia. Karena itu, pembangunan kembali rumah mereka tidak hanya ditujukan untuk menyediakan tempat tinggal, tetapi juga memulihkan harapan agar mereka dapat melanjutkan kehidupan setelah bencana.
Rekonstruksi dengan konsep tahan gempa
Pemerintah Kabupaten Manggarai berencana membangun kembali rumah warga menggunakan konsep rumah tahan gempa. Herybertus menyebut sejumlah perguruan tinggi telah membantu pemerintah daerah menyiapkan modul terkait konsep tersebut.
Dua perguruan tinggi yang disebut memberikan dukungan ialah Universitas Nusa Cendana dan ITN Malang. Modul itu akan menjadi salah satu acuan dalam pembangunan kembali rumah warga yang terdampak.
Penerapan konsep tahan gempa tidak hanya ditujukan untuk rumah lansia. Pemerintah kabupaten juga merencanakan agar bangunan lain yang direkonstruksi maupun bangunan yang akan dibangun pada masa mendatang menggunakan konsep serupa.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah menyesuaikan pembangunan dengan kondisi wilayah yang terdampak gempa. Namun, sumber tidak merinci jadwal dimulainya rekonstruksi, jumlah rumah lansia yang menjadi prioritas, maupun kebutuhan anggaran pembangunan.
Puluhan ribu rumah terdampak
Berdasarkan pendataan Pemerintah Kabupaten Manggarai hingga 18 Oktober 2026, terdapat 34.622 rumah yang terdampak gempa bumi Agustus 2026. Dari jumlah tersebut, 2.220 rumah atau sekitar enam persen mengalami kerusakan berat, sedangkan 6.129 rumah mengalami kerusakan sedang.
Data itu menggambarkan besarnya kebutuhan penanganan perumahan setelah bencana. Selain rumah yang mengalami kerusakan berat dan sedang, pemerintah daerah juga masih menghadapi persoalan pengungsian warga yang kehilangan atau tidak dapat menggunakan tempat tinggalnya.
Hingga tanggal pendataan, sebanyak 1.301 warga masih berada di 17 posko pengungsian. Di luar itu, 7.091 warga memilih mengungsi secara mandiri dengan mendirikan tenda di sekitar rumah masing-masing.
Kelompok rentan dalam penanganan
Pemkab Manggarai juga mencatat 1.054 jiwa dari warga terdampak termasuk kelompok rentan. Rinciannya terdiri atas 335 anak-anak, 265 lansia, 267 balita, dan 55 warga dengan disabilitas.
Keberadaan 265 lansia dalam kelompok rentan menjadi salah satu dasar perhatian pemerintah kabupaten terhadap pembangunan kembali rumah mereka. Prioritas itu diarahkan untuk membantu warga yang dinilai paling terbatas kemampuannya dalam memulihkan tempat tinggal secara mandiri.
Meski demikian, pembangunan kembali rumah lansia akan berlangsung dalam konteks penanganan dampak gempa yang lebih luas. Pemerintah daerah masih perlu menangani ribuan rumah rusak serta warga yang bertahan di posko dan tenda mandiri. Sumber belum menjelaskan tahapan teknis, target waktu, atau mekanisme pelaksanaan rekonstruksi tersebut.

