HomeEkbisBakorwil Malang Gandeng Talenta Kreatif, 25 Produk Lokal Blitar Didorong Naik Kelas

Bakorwil Malang Gandeng Talenta Kreatif, 25 Produk Lokal Blitar Didorong Naik Kelas

SBCNEWS.id – Peningkatan kualitas kemasan menjadi salah satu langkah penting untuk memperkuat daya saing produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta Kelompok Tani Hutan (KTH). Melalui program Millennial Job Center (MJC), Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) III Malang memfasilitasi proses rebranding terhadap 25 produk prioritas milik pelaku usaha di kawasan Selatan-Selatan Jawa Timur.

Fasilitasi tersebut dilaksanakan melalui kegiatan pendampingan desain kemasan yang berlangsung di Angkringan Pak Joko, Desa Minggirsari, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar, Kamis (5/11/2026). Program ini melibatkan pemerintah daerah, mentor profesional, talenta kreatif, serta pelaku UMKM dan KTH.

Kepala Bakorwil Malang, Asep Kusdinar, S.Hut., M.H., mengatakan pengembangan produk lokal perlu dilakukan secara berkelanjutan agar potensi ekonomi daerah dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Ia menyebutkan, jumlah UMKM di Kabupaten Blitar tercatat sebanyak 35.115 unit, Kabupaten Malang sekitar 104.000 unit, dan Jawa Timur mencapai 2.581.251 unit berdasarkan data yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.

Menurut Asep, besarnya jumlah pelaku usaha tersebut merupakan potensi yang perlu didukung dengan inovasi dan peningkatan kualitas produk. Pelaku usaha diharapkan tidak hanya menjual bahan mentah, tetapi juga mampu menghasilkan produk olahan dengan identitas dan nilai ekonomi lebih tinggi. Kemasan, lanjutnya, bukan sekadar pembungkus produk. Desain yang tepat dapat menjadi identitas usaha, memberikan perlindungan terhadap produk, sekaligus memperkenalkan karakteristik daerah asal kepada konsumen.

Bakorwil Malang juga terus mendorong pengembangan ekonomi lokal melalui program MJC sejak 2023. Program ini menjadi wadah kolaborasi antara talenta kreatif dan pelaku usaha untuk membantu menjawab kebutuhan pengembangan bisnis, termasuk dalam aspek desain dan identitas produk.

Dalam kegiatan tersebut, Prof. Dr. Asihing Kustanti, S.Hut., M.Si., menyoroti pentingnya mengenali potensi lokal sebagai dasar pengembangan usaha. Kabupaten Blitar memiliki sejumlah komoditas unggulan, seperti nanas madu, sukun, dan pisang Cavendish, yang berpeluang diolah menjadi produk dengan nilai tambah.

Ia mengingatkan bahwa keberhasilan usaha tidak hanya ditentukan oleh tampilan kemasan. Pelaku UMKM juga perlu memahami strategi harga, karakteristik konsumen, pemasaran, serta potensi produk yang dimiliki. Pendekatan 5W+1H dapat digunakan untuk memetakan peluang usaha, mulai dari mengenali produk, menentukan lokasi dan waktu pengembangan, mengidentifikasi konsumen, hingga menyusun cara meningkatkan nilai ekonominya.

Asihing turut menyampaikan adanya kerja sama melalui nota kesepahaman dengan Tim Penggerak PKK di sembilan kabupaten/kota untuk mendukung pengembangan UMKM. Produk lokal yang dinilai memiliki potensi juga dapat memperoleh kesempatan promosi melalui fasilitas show window di Bakorwil Malang.

Dari sektor kehutanan, perwakilan Cabang Dinas Kehutanan Wilayah Malang mengungkapkan bahwa Kabupaten Blitar memiliki sekitar 225 Kelompok Tani Hutan dengan dukungan tiga penyuluh kehutanan. Keterbatasan tenaga pendamping tersebut menjadi salah satu tantangan dalam pengembangan kapasitas kelompok. Karena itu, KTH membutuhkan dukungan tidak hanya dalam kegiatan produksi, tetapi juga dalam inovasi olahan hasil hutan, desain kemasan, pemasaran, penyediaan alat produktif, pengurusan perizinan, sertifikasi halal, dan akses pasar.

Salah satu bentuk dukungan yang telah dilakukan adalah kerja sama dengan Kampung Coklat melalui fasilitasi pemberian bibit kakao bagi KTH. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat terus dikembangkan dengan melibatkan talenta kreatif untuk memperkuat kualitas dan nilai jual produk kelompok.

Sementara itu, Camat Kanigoro menilai perkembangan Jalur Lintas Selatan (JLS) dapat menjadi peluang bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat. Peningkatan kunjungan wisata perlu diimbangi dengan pengembangan UMKM dan penguatan produk lokal, termasuk melalui keterhubungan dengan destinasi wisata di wilayah utara Kabupaten Blitar seperti Kampung Coklat.

Meski demikian, pelaku usaha masih menghadapi kendala berupa keterbatasan modal, kapasitas produksi, dan pemasaran. Pendampingan yang tepat diharapkan dapat membantu pelaku UMKM mengembangkan usaha sekaligus memanfaatkan peluang ekonomi dari sektor pariwisata.

Program pendampingan MJC kali ini melibatkan dua mentor, 25 talenta kreatif, dan 25 klien atau pelaku usaha. Masing-masing klien mendapatkan fasilitasi rebranding untuk satu produk prioritas, mulai dari pengenalan karakteristik produk, penyusunan konsep, pembentukan identitas merek, konsultasi, hingga penyempurnaan desain kemasan. Proses tersebut dilaksanakan secara intensif selama kurang lebih dua pekan. Setiap pelaku usaha akan memperoleh berkas desain kemasan siap cetak beserta panduan teknis pencetakan untuk mendukung penerapannya pada produk.

Melalui kolaborasi tersebut, Bakorwil Malang berharap pelaku UMKM dan KTH semakin mampu mengembangkan potensi daerah menjadi produk yang memiliki identitas kuat dan nilai jual lebih tinggi. Upaya ini sekaligus diharapkan membuka peluang pemasaran yang lebih luas serta memperkuat pertumbuhan ekonomi masyarakat di kawasan Selatan-Selatan Jawa Timur.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments