SBCNews.id — Dunia pendidikan Indonesia memasuki babak baru. Untuk pertama kalinya, pemerintah resmi mengalokasikan bantuan Program Indonesia Pintar (PIP) bagi murid Taman Kanak-kanak (TK), dengan nilai sebesar Rp 450.000 per anak setiap tahun.
Kebijakan ini diumumkan langsung oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Abdul Mu’ti, saat meresmikan sekolah hasil revitalisasi di TK Negeri 10 Manado pada Selasa (21/4/2026).
Menurut Abdul Mu’ti, program ini menjadi langkah strategis pemerintah untuk memperkuat fondasi pendidikan sejak usia dini. Pada tahun 2026, bantuan tersebut ditargetkan menjangkau sekitar 888.000 murid TK di seluruh Indonesia.
“Ini adalah momen bersejarah. Untuk pertama kalinya, negara hadir memberikan dukungan langsung kepada anak-anak usia dini melalui PIP,” ujar Abdul Mu’ti dalam sambutannya.
Selama ini, Program Indonesia Pintar lebih dikenal menyasar siswa jenjang SD hingga SMA. Namun, perluasan ke tingkat TK menandai perubahan paradigma pemerintah yang semakin menitikberatkan pentingnya pendidikan usia dini sebagai fondasi utama pembentukan karakter dan kemampuan dasar anak.
Bantuan sebesar Rp 450.000 per tahun ini diharapkan dapat membantu kebutuhan dasar pendidikan anak, seperti perlengkapan sekolah, seragam, hingga kebutuhan penunjang belajar lainnya.
Kebijakan ini juga menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam mendorong pemerataan akses pendidikan, terutama bagi keluarga kurang mampu. Dengan dukungan finansial sejak jenjang paling awal, diharapkan tidak ada lagi anak Indonesia yang tertinggal dalam mendapatkan pendidikan yang layak.
Selain itu, program ini dinilai dapat meningkatkan angka partisipasi pendidikan usia dini, yang selama ini masih menjadi tantangan di berbagai daerah.
Langkah ini mendapat respons positif dari berbagai kalangan, terutama praktisi pendidikan dan orang tua. Mereka berharap kebijakan ini tidak hanya berlanjut, tetapi juga ditingkatkan dari segi jumlah bantuan maupun cakupan penerima.
Dengan hadirnya PIP untuk murid TK, pemerintah mengirimkan pesan kuat: investasi pada pendidikan tidak boleh menunggu, melainkan harus dimulai sejak langkah pertama anak memasuki dunia belajar.
