Jakarta, SBCNEWS.ID – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia secara resmi menjalin kolaborasi strategis dengan para pelaku usaha dari Tiongkok untuk memperkuat ekosistem industri unggas di tanah air. Langkah besar ini diambil guna memastikan ketersediaan pasokan protein untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diproyeksikan membutuhkan sedikitnya 700 juta butir telur per tahun.
Ketua Umum Kadin Indonesia menegaskan bahwa volume permintaan yang masif tersebut menuntut adanya lompatan teknologi dan kapasitas produksi yang tidak bisa lagi dikelola dengan cara-cara konvensional.
Menutup Celah Defisit Pasokan
Program MBG yang menjadi pilar peningkatan kualitas SDM Indonesia memerlukan konsistensi pasokan harian yang sangat tinggi. Kadin menilai, kerja sama dengan investor China merupakan langkah taktis untuk melakukan transfer teknologi (transfer of knowledge) guna menekan biaya produksi dan meningkatkan hasil panen ternak.
“Kebutuhan 700 juta butir telur ini adalah peluang sekaligus tantangan besar. Kita memerlukan investasi di sisi hulu, mulai dari pembibitan (breeding), pabrik pakan, hingga teknologi kandang tertutup (closed-house system) agar efisiensi meningkat,” ujar perwakilan Kadin dalam keterangannya di Jakarta.
Fokus pada Hilirisasi dan Teknologi
Kerja sama ini tidak hanya terpaku pada pengadaan bibit ayam, tetapi juga mencakup beberapa poin krusial:
- Pembangunan Infrastruktur Pakan: Mengadopsi teknologi pengolahan pakan hemat biaya untuk menjaga stabilitas harga di tingkat peternak.
- Sistem Logistik Rantai Dingin (Cold Chain): Memastikan distribusi telur ke wilayah pelosok tetap terjaga kesegarannya.
- Digitalisasi Peternakan: Penggunaan IoT (Internet of Things) untuk memantau kesehatan ternak secara real-time.
Memastikan Perlindungan Peternak Lokal
Menanggapi kekhawatiran masuknya modal asing, Kadin memastikan bahwa kemitraan ini bersifat kolaboratif, bukan kompetitif. Investor asing diposisikan sebagai penyedia modal dan teknologi, sementara operasional di lapangan akan melibatkan integrasi dengan peternak rakyat.
“Skema yang kita bangun adalah kemitraan inti-plasma. Investor membawa teknologi dan akses modal, namun rakyat tetap menjadi pemilik berdaulat atas lahan dan tenaga kerja mereka,” tambah pihak Kadin.
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi
Pengamat ekonomi menilai langkah ini dapat menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi di pedesaan. Dengan adanya permintaan tetap dari program pemerintah sebesar 700 juta butir telur, risiko pasar bagi peternak menjadi lebih terukur.
Jika proyek ini berjalan sesuai rencana, Indonesia diprediksi tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan domestik untuk program MBG, tetapi juga memiliki potensi untuk memperkuat posisi sebagai eksportir produk unggas di kawasan Asia Tenggara dalam jangka panjang
