SBCNews.id — Kabar mengejutkan datang dari Jember. Bupati Jember, Muhammad Fawait, harus menjalani perawatan medis setelah kondisi kesehatannya menurun. Namun di balik kabar tersebut, terselip cerita yang justru menarik perhatian publik: dari atas ranjang rumah sakit, ia tetap menjalankan tugas pemerintahan seperti biasa.
Fawait kini dirawat di RSUD dr Soebandi, sebuah rumah sakit daerah yang belakangan semakin berkembang. Keputusan ini cukup mengejutkan, mengingat sebelumnya ia lebih sering memilih fasilitas kesehatan di luar kota, khususnya Surabaya, untuk penanganan medis.
Dalam sebuah unggahan video di media sosial, Fawait mengungkapkan bahwa terakhir kali dirinya menjalani perawatan di rumah sakit adalah pada tahun 2018. Sejak saat itu, ia jarang mengalami kondisi kesehatan yang mengharuskannya dirawat intensif.
Namun kali ini situasinya berbeda. Saat kondisi tubuhnya mulai menurun, ia sempat disarankan untuk menjalani perawatan di Surabaya. Meski demikian, ia justru mengambil keputusan yang tidak biasa—tetap dirawat di daerahnya sendiri.
“Hari ini ketika kondisi badan sudah drop, saya dianjurkan untuk dirawat di Surabaya. Tapi setelah melihat perkembangan RSUD dr. Soebandi, saya memilih di sini saja,” ujarnya dari ruang perawatan, Rabu (22/4/2026).
Keputusan tersebut bukan tanpa alasan. Fawait menilai bahwa RSUD dr. Soebandi telah mengalami kemajuan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Ia bahkan menyoroti hadirnya layanan terapi stem cell yang kini dapat diakses tanpa harus pergi ke luar negeri, sebuah pencapaian yang menurutnya patut diapresiasi.
“Pelayanannya sudah membaik dan saya yakin RSUD dr. Soebandi adalah rumah sakit unggulan di Jawa Timur bagian timur,” tambahnya.
Meski tengah menjalani perawatan dengan kondisi terpasang infus, Fawait menunjukkan dedikasi yang tak biasa. Ia tetap aktif memantau jalannya pemerintahan, berkoordinasi dengan jajaran, serta mengikuti berbagai rapat secara daring. Teknologi menjadi jembatan yang memungkinkan dirinya tetap menjalankan tanggung jawab sebagai kepala daerah, meski dalam kondisi terbatas.
Langkah ini sontak menjadi sorotan. Di satu sisi, publik melihat sisi humanis seorang pemimpin yang juga bisa jatuh sakit seperti masyarakat pada umumnya. Namun di sisi lain, komitmennya untuk tetap bekerja di tengah kondisi tersebut menghadirkan kesan kuat tentang tanggung jawab dan dedikasi.
“ Tetap semangat untuk semua yang bertugas. Saya izin dirawat, tapi tetap saya pantau lewat rapat Zoom dan lain sebagainya,” ungkapnya.
Kisah ini bukan sekadar tentang seorang bupati yang sedang sakit. Lebih dari itu, ini menjadi gambaran tentang perubahan kepercayaan terhadap fasilitas kesehatan daerah, sekaligus potret kepemimpinan di era digital—di mana tugas tidak lagi terhalang oleh ruang dan kondisi fisik.
Kini, perhatian publik tertuju pada dua hal: kondisi kesehatan Fawait yang diharapkan segera pulih, serta langkah RSUD dr. Soebandi yang semakin menunjukkan diri sebagai pusat layanan kesehatan yang kompetitif di wilayah Jawa Timur.
Di tengah keterbatasan, satu hal yang terlihat jelas—bahwa kepemimpinan tidak selalu berhenti, bahkan dari balik ruang perawatan sekalipun.
