SBCNews.id – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai membayangi wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB). Memasuki masa transisi cuaca, Kepolisian Daerah (Polda) NTB resmi menetapkan status siaga dengan memetakan sedikitnya 214 hektare lahan yang dinilai sangat rawan terbakar.
Zona merah tersebut tersebar di dua pulau utama, yakni Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa. Menanggapi potensi risiko ini, Polda NTB telah mengerahkan personel khusus serta menyiapkan berbagai sarana pendukung pemadaman di titik-titik strategis.
“Total titik rawan kebakaran mencapai luasan 214 hektare. Baik di Pulau Sumbawa maupun Lombok, kami sudah menyiagakan personel dan seluruh sarana pendukungnya,” tegas Wakil Kepala Polda NTB, Brigjen Pol. Hari Nugroho, di Mataram, Selasa (21/4).
Langkah antisipatif ini tidak dilakukan sendirian. Brigjen Pol. Hari menjelaskan bahwa pihaknya telah membangun koordinasi lintas sektoral yang melibatkan TNI, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta pemerintah daerah setempat.
Operasi pengamanan ini dilakukan secara terpusat di bawah kendali langsung Mabes Polri. Strategi ini diambil untuk memastikan respons cepat jika sewaktu-waktu muncul titik api akibat perubahan cuaca yang ekstrem.
“Operasi karhutla ini adalah instruksi langsung dari Mabes Polri. Kami bertindak cepat untuk memastikan hutan dan lahan kita tetap aman dari ancaman api,” pungkasnya.
Hingga saat ini, pemantauan di lapangan terus diperketat, terutama di wilayah-wilayah dengan vegetasi kering yang mudah tersulut api. Masyarakat juga diimbau untuk tidak melakukan aktivitas pembukaan lahan dengan cara membakar yang dapat memicu bencana lebih besar.
