HomeEkbisRupiah Menguat di Awal Pekan, Sentimen BBM dan Global Jadi Penopang

Rupiah Menguat di Awal Pekan, Sentimen BBM dan Global Jadi Penopang

SBCNews.id— Nilai tukar rupiah menunjukkan penguatan di awal perdagangan pekan ini. Pada Senin pagi, rupiah tercatat naik 34 poin atau sekitar 0,20 persen menjadi Rp17.155 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di level Rp17.189 per dolar AS.

Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai penguatan rupiah dipengaruhi kebijakan pemerintah dalam menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi. Langkah tersebut dinilai mampu mengurangi tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

“Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS menyusul langkah pemerintah menaikkan harga BBM nonsubsidi yang dianggap dapat mengurangi beban APBN,” ujarnya.

Penyesuaian harga dilakukan oleh PT Pertamina (Persero) terhadap sejumlah produk BBM seperti Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex yang mulai berlaku sejak 18 April. Kenaikan harga ini juga diterapkan di berbagai wilayah di Indonesia, mengikuti formula harga dasar sesuai regulasi Kementerian ESDM.

Kebijakan tersebut merujuk pada aturan dalam Keputusan Menteri ESDM terkait penetapan harga jual eceran BBM umum, yang disesuaikan dengan dinamika harga minyak dunia.

Meski demikian, sentimen global masih menjadi bayang-bayang bagi pergerakan rupiah. Ketidakpastian situasi di Selat Hormuz memicu kekhawatiran pasar. Kawasan ini merupakan jalur vital distribusi energi dunia, sehingga setiap gejolak berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi global.

Ketegangan meningkat setelah Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menyatakan wilayah tersebut berada dalam pengawasan ketat di tengah konflik yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat.

Di sisi lain, pelaku pasar juga masih bersikap hati-hati menantikan hasil perundingan antara Amerika Serikat dan Iran yang direncanakan berlangsung dalam waktu dekat. Pertemuan lanjutan kedua negara disebut-sebut akan digelar di Islamabad, Pakistan, dengan melibatkan tim teknis dari masing-masing pihak.

Selain faktor eksternal, perhatian investor juga tertuju pada Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) yang dijadwalkan dalam pekan ini. Lukman memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga acuan, meskipun tidak menutup kemungkinan adanya penyesuaian menyusul tekanan terhadap rupiah dalam beberapa waktu terakhir.

“Namun mencermati pelemahan rupiah belakangan ini, saya melihat ada potensi suku bunga dinaikkan,” katanya.

Dengan kombinasi sentimen domestik dan global, pergerakan rupiah dalam waktu dekat diperkirakan masih akan fluktuatif, seiring dinamika kebijakan ekonomi dan perkembangan geopolitik internasional.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments