SBCNEWS.id– Konflik yang kembali memanas di Timur Tengah mengguncang pasar energi global. Gangguan pasokan, meningkatnya biaya pengangkutan, serta serangan terhadap infrastruktur energi mendorong kenaikan harga minyak mentah dan produk olahan, termasuk solar.
Dilansir dari Kompas., Kamis (15/10/2026), laporan Oil Market Report October 2026 yang diterbitkan International Energy Agency (IEA) pada Rabu (14/10/2026) mencatat harga minyak mentah North Sea Dated meningkat sebesar 26,17 dolar AS per barel secara bulanan menjadi 116,89 dolar AS per barel pada September 2026.
Kenaikan tersebut terjadi di tengah meningkatnya permusuhan di kawasan Timur Tengah. Kilang-kilang di Asia juga mempercepat pembelian minyak mentah untuk mengantisipasi ketidakpastian pasokan. Tekanan pasar semakin besar setelah serangan terhadap infrastruktur energi, termasuk pengeboman pipa minyak East-West Arab Saudi pada 11 September 2026. Situasi tersebut turut mendorong kenaikan tarif pengangkutan minyak menggunakan kapal tanker.
IEA mencatat harga North Sea Dated sempat mencapai sekitar 134 dolar AS per barel ketika laporan disusun. Sementara itu, kontrak berjangka minyak mentah Brent naik 13 persen sejak awal September menjadi sekitar 107 dolar AS per barel.
Bahkan, sejumlah jenis minyak mentah fisik North Sea diperdagangkan hingga 160 dolar AS per barel, menunjukkan tekanan harga yang lebih besar pada pasar minyak fisik dibandingkan kontrak berjangka. Di tengah kenaikan harga, pasokan minyak global sebenarnya mulai menunjukkan pemulihan. Data IEA mencatat pasokan minyak dunia meningkat 2,5 juta barel per hari (bph) secara bulanan menjadi 102,3 juta bph pada September 2026.
Peningkatan tersebut terutama didorong oleh negara-negara produsen di kawasan Teluk. Produksi negara-negara OPEC+ bertambah 2,1 juta bph, dengan Arab Saudi menjadi salah satu pendorong utama. Uni Emirat Arab juga berkontribusi terhadap peningkatan pasokan dari negara-negara non-OPEC+.
Ekspor minyak mentah dari negara-negara produsen di kawasan Teluk meningkat 4,4 juta bph menjadi 13,9 juta bph pada September. Angka tersebut telah mencapai lebih dari 75 persen dari tingkat sebelum perang. Arus minyak melalui Selat Hormuz juga naik 3,7 juta bph menjadi 10,9 juta bph. Selain itu, peningkatan aliran minyak melalui jaringan pipa East-West mendorong ekspor melalui jalur alternatif di luar Selat Hormuz bertambah 970.000 bph menjadi 5,6 juta bph.
Meski demikian, IEA menilai pemulihan tersebut masih rapuh. Kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran dan serangan Houthi di kawasan tersebut pada Oktober 2026 membuat prospek pasokan minyak global tetap dibayangi ketidakpastian. IEA memperkirakan pasokan minyak global pada semester II-2026 rata-rata mencapai 101,4 juta bph, naik dari 96,4 juta bph pada kuartal II-2026. Namun, secara tahunan, pasokan diproyeksikan turun 5,8 juta bph menjadi rata-rata 100,7 juta bph sepanjang 2026.
Pasokan minyak dunia diperkirakan kembali meningkat sebesar 7,7 juta bph pada 2027. Pemulihan pasokan minyak mentah belum sepenuhnya diikuti oleh ketersediaan produk olahan minyak. Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang menekan pasar bahan bakar, terutama solar dan gasoil.
Menurut laporan IEA, pengiriman produk minyak olahan dari Timur Tengah meningkat 210.000 bph menjadi 1,9 juta bph pada September 2026. Meski meningkat, jumlah tersebut masih jauh di bawah tingkat sebelum perang yang mencapai 4,7 juta bph. Sementara itu, pengiriman gas minyak cair atau liquefied petroleum gas (LPG) naik 90.000 bph menjadi 670.000 bph. Angka tersebut juga masih tertinggal dibandingkan tingkat sebelum konflik, yakni 1,5 juta bph.
IEA mencatat ketersediaan solar dan gasoil global turun 1,5 juta bph pada kuartal II-2026 dan 1,7 juta bph pada kuartal III-2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan itu dipengaruhi gangguan ekspor dari Timur Tengah, yang diperparah oleh berkurangnya pasokan dari Rusia dan sejumlah negara Asia.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa kenaikan produksi minyak mentah belum cukup untuk meredakan tekanan pada pasar bahan bakar. Gangguan pengolahan dan distribusi produk minyak masih menjadi tantangan di tengah konflik geopolitik yang belum mereda. Perkembangan pasokan dan keamanan jalur distribusi energi global pun menjadi faktor penting yang akan memengaruhi pergerakan harga minyak dan produk turunannya dalam beberapa waktu mendatang.
