HomeUmumNgatinah, Pendoa Jawa di Negeri yang Majemuk

Ngatinah, Pendoa Jawa di Negeri yang Majemuk

Ngatinah adalah seniwati Surabaya yang hidupnya ditempa panggung rakyat, luka personal, dan laku doa Jawa. Bertahun-tahun ia menghabiskan hidup di dunia ludruk, keroncong, dan karawitan—ruang-ruang seni yang mengajarkannya bertahan sekaligus memahami manusia apa adanya. Kini, di usia senja, ia dikenal sebagai pendoa Jawa yang berjalan di antara komunitas lintas iman, membawa pesan sederhana: kemanusiaan harus dirawat tanpa mempersoalkan perbedaan keyakinan.

Jejak hidup itu masih terhubung erat dengan Balai Pemuda Surabaya. Di kompleks inilah Ngatinah kerap hadir sebagai penonton. Dari dalam gedung pertunjukan, suara persiapan teater, ludruk, karawitan, hingga wayang orang bersahutan. Ia duduk sederhana, makan perlahan, sesekali menoleh ke arah panggung. “Saya ingin menonton teman-teman saya tampil. Rindu,” tukas Ngatinah malam itu. Seni baginya bukan masa lalu. Ia hanya menjelma bentuk lain.

Balai Pemuda adalah simpul ingatan bagi Ngatinah. Di tempat-tempat seperti inilah kesenian pernah menjadi napas hidupnya. “Kecintaan saya pada seni selalu menuntun langkah ke sini. Saya ini seniwati dan seniman Surabaya. Di mana pun berada, saya membawa diri sebagai pendoa Jawa untuk mengembalikan jati diri Jawa,” tutur perempuan kelahiran tahun 1958 ini. Kalimat itu lahir bukan dari wacana kebudayaan, melainkan dari perjalanan hidup yang panjang dan berliku.

Jejak kesenian Ngatinah bermula sejak 1970-an di Taman Hiburan Rakyat (THR) Surabaya. Tempat itu bukan sekadar ruang pertunjukan, melainkan dunia yang keras sekaligus penuh solidaritas. Di sanalah Ngatinah menyanyi, menari, menjadi penari ular, dan hidup bersama seniman-seniman yang menggantungkan hidup sepenuhnya pada panggung. Ia bahkan tinggal di area THR, tidur di sana, bertahun-tahun menyatu dengan denyut hidup kesenian rakyat hingga tempat itu akhirnya ditutup.

THR menjadi sekolah kehidupan. Tidak ada glamor, tidak ada jaminan hari esok. Jika hari ini tampil, malam itu bisa makan. Jika tidak, ya bertahan dengan apa adanya. Dari sana Ngatinah belajar bahwa seni bukan sekadar bakat, melainkan ketahanan. Seni menuntut tubuh yang kuat dan hati yang lapang.

Dari THR, langkahnya berlanjut ke dunia keroncong. Ia mengisi siaran RRI dan TVRI—ruang yang menuntut disiplin dan pengendalian rasa. Lalu hidupnya kembali berbelok ketika ia tinggal di Prigen dan diajak menjadi sinden wayang kulit. Saat itu ia bahkan belum mengenal gamelan. Namun seperti hidupnya sendiri, ia belajar sambil berjalan, masuk ke dunia karawitan dan tembang Jawa tanpa bangku sekolah, tanpa kitab pegangan.

Di masa inilah Ngatinah semakin menyatu dengan ludruk. Ia menjadi pemeran, pelawak, sekaligus pengisi vokal. Ludruk mengajarkannya spontanitas dan keberanian berkata jujur. Tidak ada skenario hafalan. Semua lahir dari rasa dan respons di panggung. Ia sering memainkan peran mbok desa—perempuan kampung yang mengomel, marah, tertawa, dan terluka. Bahasa Surabaya yang lugas dan jenaka itu menjadi sekolah empati yang kelak sangat ia butuhkan.

Namun di balik kesibukan seni, hidup personal Ngatinah tidak ramah. Ia mengalami kekerasan dalam rumah tangga. “Saya sering dizalimi oleh suami saya,” aku Ngatinah lirih. Luka tersebut membuatnya memilih pergi jauh—berjalan kaki dari Jawa Barat hingga Bali selama setahun. Ia bertirakat, bertapa, tinggal di gunung. Bukan untuk melarikan diri, melainkan untuk menemukan keberanian berdiri sebagai dirinya sendiri.

Dari laku itulah doa Jawa menemukan jalannya. Doa yang ia baca tidak ditulis, tidak dibukukan, dan tidak dihafalkan lewat teks. Semua hidup di ingatan tubuh dan rasa. Ia memahami doa untuk kelahiran, tujuh bulanan, pernikahan, hingga kematian. Doa yang mengalir dari pengalaman, dari seni, dari luka yang perlahan berdamai.

Ngatinah menyebut dirinya bukan pendoa lintas agama, melainkan pendoa Jawa. Ia kemudian secara sadar memilih Himpunan Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa (HPK). Pilihan itu ia jalani dengan penuh konsekuensi, tanpa merasa perlu menjelaskan atau membela diri. Yang menarik, pilihan tersebut tidak memutus relasinya dengan siapa pun. Anak-anaknya adalah warga Nahdlatul Ulama. Lingkungannya mayoritas Muslim. Ia tetap ikut pengajian, tahlilan, dan menjadi orang pertama yang merawat jenazah di kampungnya.

Di titik inilah laku hidup Ngatinah sejalan dengan teladan KH. Abdurrahman Wahid. Gus Dur berulang kali mengingatkan bahwa kemanusiaan harus ditempatkan di atas sekat-sekat identitas. Minoritas, dalam pandangannya, bukan untuk dijauhkan, melainkan dirawat. Ngatinah menjalani pesan itu bukan lewat pidato, melainkan lewat kehadiran sehari-hari—menjadi tetangga, penolong, dan pendoa bagi siapa pun.

Kini, di usia senja, kesibukan Ngatinah justru semakin padat. Ia sering diundang komunitas lintas agama dan lintas budaya: dari padepokan, pesantren, balai budaya, hingga forum dialog iman. Ia memimpin doa Jawa sebagai wakil tradisi, bukan sebagai tandingan keyakinan lain. Pernah pula ia berdiri di Istana Negara, mewakili Komnas Perempuan dan HAM dalam peringatan Bahasa Ibu.

Di luar forum-forum itu, hidup Ngatinah tetap sederhana. Ia memijat di rumah, membantu persalinan, dan menolong siapa pun yang datang meminta bantuan. Ia tidak mematok bayaran. “Saya tidak pamrih apa pun. Saya tidak niat jadi orang sakti,” tegasnya. Semua ia sebut sebagai darma—kewajiban hidup selama masih diberi napas.

Seni, luka, dan doa kini bertemu dalam satu laku. Dari panggung yang riuh hingga doa yang lirih, Ngatinah berjalan di antara manusia-manusia dengan keyakinan berbeda, membawa satu pesan yang juga diwariskan Gus Dur: bahwa keragaman bukan ancaman, melainkan anugerah yang harus dirawat dengan keberanian, empati, dan kemanusiaan. (Asvin Ellyana)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here