SBCNews.id – Di tengah masyarakat yang sering memandang tinggi keturunan dan gelar, sosok KH Umar Al Faruq bin Abdurrozak justru memilih jalan sebaliknya. Ulama kharismatik yang lahir di Ngelom, Sepanjang, Sidoarjo, sekitar tahun 1904 itu menjalani hidup dalam kesederhanaan, merahasiakan asal-usul keluarganya, bahkan berwasiat agar dimakamkan di pemakaman umum tanpa bangunan makam yang megah.
Nama KH Umar Al Faruq dikenal luas di kalangan masyarakat Randupadangan, Menganti, Gresik, sebagai seorang alim yang sederhana, dermawan, dan penuh keteladanan. Namun, semakin dekat seseorang mengenalnya, semakin tampak bahwa banyak bagian dari kehidupannya justru diselimuti kerahasiaan.Sejak muda, beliau mengembara menuntut ilmu ke berbagai pesantren besar di Pulau Jawa. Di antaranya adalah pesantren asuhan KH Syaichona Kholil di Bangkalan, Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, serta Pondok Pesantren Langitan Tuban. Selain itu, beliau juga tercatat pernah belajar di sejumlah pesantren lain di wilayah Jombang dan Peterongan.
Meski tidak banyak catatan tertulis mengenai masa belajarnya, para murid dan keluarga meyakini bahwa perjalanan intelektual dan spiritual yang panjang itulah yang membentuk karakter beliau sebagai ulama yang tawaduk dan tidak suka menonjolkan diri.Tak hanya dikenal sebagai pendidik agama, KH Umar Al Faruq juga disebut pernah terlibat dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dalam berbagai cerita yang diwariskan keluarga dan murid-muridnya, beliau pernah menjadi bagian dari pasukan Hizbullah yang turut berjuang mempertahankan kemerdekaan bangsa.Bahkan, beliau diketahui pernah menerima tunjangan veteran. Sejumlah keluarga juga menyebut bahwa beliau pernah memiliki pistol peninggalan masa perjuangan. Namun seperti banyak aspek kehidupannya yang lain, kisah perjuangan tersebut jarang sekali beliau ceritakan kepada orang lain.”Beliau sangat tertutup soal dirinya sendiri,” tutur salah seorang muridnya.Sikap rendah hati itu pula yang tampak ketika berbicara tentang keturunan. Setelah beliau wafat pada tahun 1994 dalam usia yang diperkirakan sekitar 90 tahun, barulah sebagian keluarga dan murid mengetahui bahwa nasab beliau ternyata memiliki hubungan dengan Kesultanan Mataram dan Kesultanan Cirebon.Informasi tersebut antara lain pernah disampaikan oleh Gus Ali Mashuri dari Tulangan, Sidoarjo, serta didukung sejumlah catatan keluarga yang menunjukkan garis keturunan beliau.Namun sepanjang hidupnya, KH Umar Al Faruq hampir tidak pernah membicarakan hal tersebut.
Bahkan kepada murid-muridnya beliau sering berpesan dalam bahasa Jawa:”Sopo aku ora perlu, sopo turunanku yo ora perlu.”Siapa dirinya dan siapa keturunannya, menurut beliau, bukanlah sesuatu yang penting. Yang lebih utama adalah amal saleh dan pengabdian kepada Allah SWT.Kesederhanaan pemikirannya juga tercermin dalam berbagai nasihat yang masih diingat masyarakat hingga sekarang. Salah satu yang paling terkenal adalah:”Ora usah golek rezeki, rezeki sing bakal goleki awakmu.”Jangan terlalu sibuk mengejar rezeki, sebab rezeki akan datang mencari manusia sesuai ketentuan Allah SWT. Manusia, menurut beliau, seharusnya lebih fokus memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.Nasihat itu bukan sekadar kata-kata.
Dalam kesehariannya, KH Umar Al Faruq dikenal gemar membantu masyarakat sekitar. Beliau sering berbagi kepada mereka yang membutuhkan tanpa banyak bicara.Ketika seseorang bertanya mengapa beliau begitu senang bersedekah, jawabannya sangat sederhana.”Berbagi itu kebutuhan hati saya sendiri.”Kalimat singkat itu menggambarkan bagaimana sedekah bagi beliau bukanlah pencitraan ataupun kewajiban sosial, melainkan kebutuhan spiritual yang lahir dari kedalaman jiwa.Menjelang akhir hayatnya, KH Umar Al Faruq kembali menunjukkan sikap yang konsisten dengan seluruh perjalanan hidupnya. Beliau berwasiat agar tidak dimakamkan di tempat khusus ataupun makam keluarga.Beliau meminta dimakamkan di pemakaman umum Desa Randupadangan, Menganti, Gresik. Bahkan makamnya tidak boleh dibangun secara khusus maupun dibuat megah.
Ketika beliau wafat pada tahun 1994, sempat muncul perbedaan pendapat mengenai lokasi pemakaman. Namun keluarga akhirnya menjalankan wasiat tersebut. Hingga kini, makam beliau tetap berada di pemakaman umum sebagaimana yang beliau kehendaki.Dalam kehidupan keluarga, KH Umar Al Faruq diketahui pernah menikah dengan empat orang istri, yakni Jannah, Masriyah, Supiati, dan Rupiah. Dari pernikahan-pernikahan tersebut, beliau dikaruniai sejumlah putra-putri yang kemudian melanjutkan perjuangan dakwah keluarga.Di antara anak-anak beliau yang dikenal masyarakat adalah Aslikhah, Ahmad Hasoni atau yang akrab disapa Gus Mad, pengasuh Pondok Pesantren Darut Tawabin di Gresik, serta Ianah. Saat ini keturunannya telah berkembang dengan 12 cucu yang sebagian besar tinggal di wilayah Randupadangan dan Menganti, Gresik.Lebih dari tiga dekade setelah wafatnya, nama KH Umar Al Faruq masih dikenang bukan karena nasabnya, bukan pula karena kisah perjuangannya yang heroik.
Masyarakat mengenangnya karena keteladanan hidup yang sederhana: menyembunyikan kemuliaan diri, memperbanyak amal, dan mengajarkan bahwa nilai manusia tidak terletak pada siapa leluhurnya, melainkan pada apa yang ia persembahkan kepada Allah dan sesama manusia.
