HomeEkbisLangkah Berani dari Balik Pesantren: Saat Darussalam Blokagung Siapkan Lahan 1 Hektare...

Langkah Berani dari Balik Pesantren: Saat Darussalam Blokagung Siapkan Lahan 1 Hektare untuk Lawan Krisis Sampah di Banyuwangi

SBCNews.id — Di tengah ancaman krisis sampah yang kian nyata dan tak lagi bisa diabaikan, sebuah langkah tak terduga justru datang dari lingkungan pesantren. Pondok Pesantren Darussalam Blokagung di Desa Karangdoro, Kecamatan Tegalsari, Banyuwangi, mengambil inisiatif besar yang kini menyita perhatian banyak pihak.

Tak sekadar wacana atau seruan moral, pesantren terbesar di Banyuwangi ini benar-benar menyiapkan lahan luas sekitar satu hektare untuk pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R). Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa persoalan sampah bukan lagi tanggung jawab pemerintah semata, melainkan masalah bersama yang menuntut aksi nyata dari semua elemen masyarakat.

Gagasan tersebut disampaikan langsung oleh Ahmad Munib Syafa’at, anggota Dewan Pengasuh Ponpes Darussalam Blokagung sekaligus Rektor Universitas KH Mukhtar Syafa’at, saat melakukan peninjauan ke fasilitas TPS3R Balak di Kecamatan Songgon, Rabu (22/4/2026). Sosok yang akrab disapa Gus Munib ini menegaskan bahwa persoalan sampah telah memasuki tahap yang mengkhawatirkan.

“Ini bukan lagi isu kecil. Sampah adalah persoalan bersama yang tidak bisa ditangani sendiri. Dibutuhkan kerja sama nyata dan berkelanjutan,” ujarnya.

Pernyataan tersebut bukan tanpa alasan. Aktivitas ribuan santri serta masyarakat di sekitar pesantren setiap hari menghasilkan volume sampah yang cukup besar. Tanpa pengelolaan yang baik, kondisi ini berpotensi menimbulkan dampak serius bagi lingkungan, mulai dari pencemaran hingga gangguan kesehatan.

Gus Munib menggambarkan kondisi yang kini semakin memprihatinkan. Sungai, bantaran, hingga saluran air di berbagai wilayah mulai berubah fungsi menjadi tempat pembuangan sampah. Fenomena ini menjadi alarm keras bahwa penanganan konvensional sudah tidak lagi memadai.

Sebagai bentuk komitmen, pihak pesantren telah menyiapkan lahan seluas kurang lebih 11.000 meter persegi untuk mendukung pembangunan TPS3R. Tidak hanya sebagai solusi teknis, proyek ini juga diharapkan mampu memberikan nilai tambah secara ekonomi bagi masyarakat sekitar.

“Kami sudah siapkan lahannya. Harapannya, ini bisa menjadi solusi bersama sekaligus memberi manfaat ekonomi,” jelasnya.

Lebih dari sekadar fasilitas pengolahan sampah, rencana ini juga membawa visi yang lebih besar. TPS3R yang akan dibangun diharapkan menjadi pusat edukasi dan percontohan bagi pesantren lain serta masyarakat luas dalam mengelola sampah secara berkelanjutan.

Langkah progresif ini pun mendapat respons positif dari Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Melalui Dinas Lingkungan Hidup Banyuwangi, pemerintah menyatakan dukungan penuh terhadap inisiatif yang lahir dari komunitas tersebut.

Kepala Bidang Kebersihan DLH Banyuwangi, Roby Kurniawan, menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi kunci utama dalam mengatasi persoalan sampah yang semakin kompleks.

“Ini langkah yang sangat baik. Siapa pun yang ingin bekerja sama dalam pengurangan sampah tentu akan kami dukung,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi kesiapan lahan yang telah disediakan pihak pesantren dan mendorong agar langkah tersebut segera ditindaklanjuti melalui pengajuan resmi. Menurutnya, peluang dukungan anggaran dari pemerintah terbuka lebar jika program ini dapat dirancang secara matang.

Sinergi antara pesantren dan pemerintah daerah ini menjadi harapan baru dalam penanganan sampah di Banyuwangi, khususnya di kawasan Blokagung. Di tengah meningkatnya volume sampah yang kerap menjadi persoalan klasik di berbagai daerah, langkah ini menghadirkan pendekatan berbeda—berbasis komunitas, kolaboratif, dan berorientasi jangka panjang.

Kini, perhatian publik mulai tertuju pada bagaimana rencana ini akan direalisasikan. Akankah langkah berani dari pesantren ini menjadi titik balik dalam pengelolaan sampah di Banyuwangi? Atau justru menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk melakukan hal serupa?

Yang jelas, dari balik tembok pesantren, sebuah gerakan besar sedang dimulai—gerakan yang tidak hanya berbicara tentang sampah, tetapi juga tentang kesadaran, tanggung jawab, dan masa depan lingkungan yang lebih baik.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments