JAKARTA SBCNews.id. – Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, resmi tancap gas dalam menangani krisis sampah di Ibu Kota. Tidak tanggung-tanggung, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyiapkan strategi komprehensif yang menggabungkan kecanggihan teknologi tinggi dengan penguatan budaya masyarakat di tingkat akar rumput.Langkah monumental ini ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) terkait Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) antara Badan Pengelola Investasi Danantara dan Pemprov Jakarta di kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Senin (4/5/2026).
Sampah di Depan Rumah Kini Jadi Sumber Energi Hadir dalam seremoni tersebut, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) memberikan apresiasi tinggi terhadap kolaborasi ini. Menurut Zulhas, proyek PSEL adalah solusi konkret untuk membersihkan wajah Jakarta dari tumpukan limbah sekaligus memberikan nilai tambah ekonomi.”Pak Gubernur (Pramono) bertindak bersama kami. Sampah yang selama ini menumpuk di depan rumah warga Jakarta akan diubah menjadi listrik yang mengaliri kota,” ujar Zulhas dengan optimis.
Teknologi PSEL diproyeksikan menjadi tulang punggung pengelolaan sampah masa depan Jakarta. Dengan sistem ini, volume sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir (TPA) dapat ditekan secara signifikan karena dibakar dalam suhu tinggi untuk menggerakkan turbin penghasil listrik.
Bukan Sekadar Teknologi, Tapi Perubahan Perilaku Meski mendorong teknologi mutakhir, Gubernur Pramono Anung menegaskan bahwa mesin secanggih apa pun tidak akan cukup tanpa peran serta warga. Ia menekankan pentingnya strategi “hulu ke hilir”.
Di sisi hulu, Pemprov DKI Jakarta akan memperketat gerakan pemilahan sampah langsung dari rumah tangga. Warga didorong untuk memisahkan sampah organik dan anorganik sebelum diangkut oleh petugas. Hal ini bertujuan untuk meringankan beban kerja fasilitas pengolahan dan memastikan proses daur ulang berjalan optimal.
