HomeSosialEpilepsi Bukan Kutukan, Dokter Ajak Masyarakat Hentikan Stigma terhadap Penderitanya

Epilepsi Bukan Kutukan, Dokter Ajak Masyarakat Hentikan Stigma terhadap Penderitanya

SBCNEWS.id – Epilepsi masih kerap disalahpahami oleh sebagian masyarakat Indonesia. Penyakit yang dikenal dengan istilah ayan atau sawan ini sering dikaitkan dengan kutukan, kerasukan, hingga gangguan makhluk halus. Padahal, epilepsi merupakan gangguan neurologis yang dapat dijelaskan secara medis dan bukan penyakit menular.Dr. Utoyo Sunaryo, Sp.N., dari Divisi Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, menegaskan pentingnya meluruskan pemahaman masyarakat mengenai epilepsi.

Menurutnya, persoalan epilepsi tidak hanya berkaitan dengan diagnosis dan pengobatan, tetapi juga stigma sosial yang masih melekat pada penderitanya.Dalam artikel yang dimuat SANSEKERTA.ID berjudul “Epilepsi Bukan Kutukan: Saatnya Masyarakat Mengakhiri Stigma”, dijelaskan bahwa istilah epilepsi berasal dari bahasa Yunani epilambanein, yang menggambarkan kondisi ketika serangan datang secara tiba-tiba, seolah-olah seseorang sedang diserang dari luar.Di Indonesia, istilah ayan dan sawan telah lama digunakan masyarakat untuk menyebut kondisi tersebut.

Namun, pemahaman tradisional yang tidak didasarkan pada pengetahuan medis dapat memunculkan anggapan keliru terhadap penderita epilepsi.Epilepsi bukanlah kutukan maupun tanda seseorang mengalami kerasukan. Kondisi ini merupakan gangguan pada sistem saraf yang memerlukan pemahaman, pemeriksaan, dan penanganan medis yang tepat.Selain itu, anggapan bahwa epilepsi dapat menular melalui air liur juga tidak benar. Kesalahpahaman semacam ini berpotensi membuat penderita dijauhi, mengalami diskriminasi, atau kesulitan menjalani kehidupan sosial secara wajar.

Oleh karena itu, edukasi mengenai epilepsi perlu terus diperkuat agar masyarakat dapat membedakan mitos dan fakta medis. Pemahaman yang benar diharapkan mampu mendorong lingkungan yang lebih inklusif serta memberikan dukungan kepada orang yang hidup dengan epilepsi.Mengakhiri stigma menjadi langkah penting agar penderita epilepsi memperoleh kesempatan yang sama untuk belajar, bekerja, bersosialisasi, dan menjalani kehidupan tanpa dibayangi prasangka.Dilansir dari SANSEKERTA.ID melalui artikel opini Dr. Utoyo Sunaryo, Sp.N., berjudul “Epilepsi Bukan Kutukan: Saatnya Masyarakat Mengakhiri Stigma”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here