SBCNews.id JAKARTA — Niat hati ingin bebas dari kepungan banjir, warga RT 004/RW 03, Kelurahan Pegangsaan Dua, Kelapa Gading, Jakarta Utara, justru harus menelan pil pahit. Proyek pembangunan turap Kali Cakung Drain yang diidam-idamkan, kini malah memicu krisis baru bagi warga akibat pengerjaannya yang berlarut-larut selama lima bulan terakhir.
Dampaknya tidak main-main: akses jalan lingkungan terputus, dan aliran air PAM yang menjadi kebutuhan vital warga kerap mati total.Ketua RT 004/03 Pegangsaan Dua, Parid, mengungkapkan bahwa warganya yang semula menyambut gembira proyek ini, sekarang mulai kehabisan kesabaran. Ia melontarkan sindiran menohok terkait anomali aktivitas di lokasi proyek.
“Proyek ini berjalan. Tapi dibilang berjalan, seperti mangkrak gitu. Dibilang mangkrak, tapi berjalan,” ucap Parid dengan nada heran saat ditemui di Jakarta, Rabu.
Janji Bebas Banjir yang Berujung Krisis Air
Secara kasat mata, Parid mengakui para pekerja selalu menampakkan batang hidungnya di lokasi setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 16.00 WIB. Namun, entah mengapa progres fisik di lapangan terasa berjalan di tempat.
Padahal, urgensi proyek ini sangat tinggi. Kawasan Pegangsaan Dua tercatat sebagai “langganan” banjir parah; bahkan pernah dalam satu bulan, permukiman warga terendam hingga empat kali. Atas dasar itulah, pengurus RW setempat sudah sejak lama mendesak pemerintah untuk memasang turap di kali tersebut.
Di balik lambannya pengerjaan, Parid mendapati adanya benang kusut dalam hal komunikasi. Ketika ia mencoba mencari kejelasan kepada Lurah setempat, terungkap bahwa jalinan koordinasi antara pelaksana proyek di lapangan dengan aparat kelurahan sangat buruk.
“Ternyata, pas saya komunikasi dengan pihak lurah, koordinasinya tidak bagus. Ini yang sangat kami sayangkan. Kami berharap dengan adanya pembangunan ini, ada koordinasi yang cukup bagus,” ungkapnya kecewa.
Kini, warga Pegangsaan Dua tidak meminta hal yang muluk-muluk selain ketegasan dan percepatan. Lima bulan hidup dalam ketidaknyamanan dinilai sudah lebih dari cukup.
“Kami maunya cepat. Jangan sampai lambat, jadi akses masyarakat semua ini bisa lancar lagi,” pungkas Parid tegas.
