HomeKulinerSate Kampret, Menu Anti-Mainstream di Pasar Legi Jombang

Sate Kampret, Menu Anti-Mainstream di Pasar Legi Jombang

Di sudut Pasar Legi, Jombang, ketika sebagian besar los sudah menutup pintu dan aroma sayur basah bercampur sisa hujan, asap tipis justru mengepul dari sebuah warung sederhana. Malam belum terlalu larut, tapi antrean sudah mengular. Di sanalah Sate Kampret bertahan, melawan sepi dengan bara arang dan bumbu pedas yang menyengat hidung.

Menikmati makanan di tengah pasar pada malam hari memang menghadirkan sensasi berbeda. Lampu-lampu seadanya memantul di lantai pasar, suara pedagang yang berkemas berpadu dengan denging kendaraan yang melintas pelan. Suasana itulah yang sejak puluhan tahun lalu menjadi “rumah” bagi Warung Sate Kampret, kuliner legendaris yang namanya kerap mengundang senyum—bahkan salah paham—bagi yang baru pertama mendengarnya.

Meski disebut “kampret”, sate di warung ini tentu bukan berbahan daging anak kelelawar. Sate Kampret justru dibuat dari daging sapi pilihan, dipotong tebal, lalu dilumuri bumbu khas yang terkenal dengan sensasi pedasnya. Bumbu itu bukan sekadar sambal kacang biasa, melainkan racikan yang kaya cabai, gurih kacang, dan rempah yang menyisakan hangat lama di lidah. “Pedasnya beda, ada rasa nendang tapi bikin nagih,” ujar Wisnu, salah satu penggemar setia Sate Kampret, sembari menunggu pesanan datang. Ia mengaku rela datang malam-malam hanya demi seporsi sate dengan nasi hangat.

Penikmat Sate Kampret tak hanya datang dari Jombang. Warung sederhana di dalam pasar ini justru menjadi magnet bagi pemburu kuliner dari berbagai daerah. Warga Surabaya, Malang, Mojokerto, Pasuruan, Kediri, bahkan Jakarta, kerap menyempatkan diri mampir. Bagi mereka, Sate Kampret bukan sekadar makanan, melainkan pengalaman. “Saya tiap ke Jombang pasti ke sini. Rasanya khas, suasananya juga nggak bisa didapat di tempat lain,” tutur Urifa, pengunjung asal Pasuruan. Duduk di bangku panjang, beralaskan meja sederhana, ia menikmati sate sambil sesekali menyeka keringat akibat pedas bumbu.

Keunikan Sate Kampret memang tidak hanya terletak pada tempatnya yang anti-mainstream, tetapi juga pada cita rasanya. Racikan bumbu yang pedas menjadi identitas yang dijaga turun-temurun. “Kalau tidak pedas, bukan Sate Kampret,” celetuk Pila, pelanggan lain yang sudah bertahun-tahun datang.

Nama “Kampret” sendiri memiliki cerita panjang. Ia bukan sekadar julukan iseng, melainkan melekat pada sosok pendirinya: Jumain Kampret. Bersama sang istri, Jumain mendirikan warung ini lebih dari 30 tahun lalu. Dulu, ia membuka lapak mulai pukul 11 malam hingga dini hari. Karena aktif berjualan malam seperti kalong, orang-orang pun menyebut sate buatannya sebagai Sate Kampret. Nama itu bertahan, bahkan menjadi legenda.

Kini, tongkat estafet diteruskan kepada putrinya, Sri Wahyuni. Dengan ketelatenan yang sama, Sri menjaga cita rasa sekaligus ritme kerja warung yang tak pernah sepi. “Setiap hari kami belanja sekitar 36 kilogram daging sapi. Bisa jadi lebih dari 2.000 tusuk sate dan hampir selalu habis,” ungkap Sri.

Tak hanya daging, kebutuhan bumbu pun tak main-main. Sedikitnya lima kilogram cabai dan kacang diolah setiap hari demi menjaga rasa khas yang sudah dikenal luas. Bagi Sri, mempertahankan kualitas adalah bentuk penghormatan pada perjuangan orang tuanya.

Selain sate sebagai menu utama, warung ini juga menyediakan beragam hidangan rumahan: nasi urap-urap, rawon, lodeh, pecel, hingga kare. Menu-menu itu menjadi pelengkap sempurna bagi siapa saja yang ingin makan lengkap setelah seharian beraktivitas.

Di tengah gempuran kuliner modern dan kafe-kafe kekinian, Sate Kampret tetap bertahan dengan kesederhanaannya. Ia tak menawarkan interior mewah, hanya rasa yang jujur dan suasana yang otentik. Bagi banyak orang, justru di sanalah letak keistimewaannya.

Maka, jika suatu malam Anda berada di Jombang dan ingin merasakan sensasi kuliner yang berbeda—datanglah ke Pasar Legi. Di antara los-los yang mulai sunyi, Sate Kampret menunggu, dengan bara arang yang tak pernah padam dan cerita panjang yang tersaji di setiap tusuknya. (Vin)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments