SBCNews.id — Bencana banjir lahar dan tanah longsor menerjang sejumlah wilayah di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, sejak Selasa (3/3/2026). Peristiwa ini menyebabkan tiga orang meninggal dunia, enam orang mengalami luka-luka, serta dua warga lainnya masih dalam pencarian oleh tim gabungan.
Kepala Pelaksana Harian BPBD Jawa Tengah, Bergas Catursasi Penanggungan, mengatakan proses pencarian korban yang hilang terus dilakukan dengan menyisir aliran sungai yang terdampak.
“Korban luka ada enam orang. Korban meninggal dunia yaitu Imam Setiawan (21), Fuad Hasan (25), dan Heru Setiawan (24). Saat ini tinggal dua orang yang masih dalam pencarian, dimulai hari ini dengan penyisiran di sepanjang aliran Sungai Senowo,” kata Bergas saat dikonfirmasi, Kamis (5/3/2026).
Selain menimbulkan korban jiwa, banjir lahar yang dipicu aktivitas Gunung Merapi tersebut juga menyebabkan kerusakan infrastruktur di sejumlah titik. Kepala Bidang Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Jawa Tengah, Armin Nugroho, mengungkapkan bahwa derasnya aliran material vulkanik merusak beberapa jembatan serta permukiman warga.
Salah satu kerusakan paling parah terjadi pada Jembatan Surodadi yang menghubungkan Kecamatan Sawangan dan Muntilan. Jembatan tersebut mengalami kerusakan serius sehingga akses sementara ditutup untuk keselamatan warga.
“Selain itu terdapat 14 rumah rusak ringan, satu bangunan ruko terancam, dua rumah makan terdampak, serta kerusakan jalan penghubung antara Desa Sewukan dan Desa Paten,” ujar Armin.
Kerusakan juga dilaporkan terjadi pada sejumlah jembatan lain, di antaranya Jembatan Sungai Kepil di Desa Paten, Jembatan Kojor Semendi di Desa Bojong, serta Jembatan Srowol di Desa Progowati. Di sisi lain, aliran lahar turut merusak badan jalan di beberapa ruas penting, termasuk di sekitar Pasar Suko dan Jalan Talun.
Tidak hanya itu, jaringan air bersih di Desa Keningar dilaporkan tidak berfungsi akibat terdampak material banjir lahar. Tim BPBD bersama instansi terkait masih melakukan asesmen lanjutan serta pemasangan rambu peringatan dan penutupan sejumlah jalur yang dinilai berbahaya.
Hingga kini, upaya penanganan darurat dan pencarian korban hilang terus dilakukan, sementara warga diimbau tetap waspada terhadap potensi banjir lahar susulan di wilayah lereng Merapi.



