SBCNews.id — Kontras wajah ibu kota terasa begitu tajam di Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara. Hanya sekitar 500 meter dari kawasan elite Pantai Mutiara yang rapi dan lapang, berdiri permukiman padat dengan lorong-lorong sempit yang nyaris tak pernah disentuh sinar matahari.
Gang masuk ke kawasan itu lebarnya sekitar 1,5 hingga 2 meter. Namun, semakin ke dalam, jalurnya menyempit hingga hanya menyisakan ruang 40–60 sentimeter. Dinding rumah berdiri rapat tanpa celah. Beberapa bangunan semi permanen bahkan menjulang dua lantai dan menjorok ke atas, menutup langit-langit gang.
Di ruang sesempit itu, ribuan orang menggantungkan hidupnya.
Ketua RT 20 RW 17 Muara Baru, Hendri Kurniawan, menyebut wilayahnya dihuni sekitar 1.500 hingga 2.000 jiwa dengan kurang lebih 450 bangunan. Kepadatan telah berlangsung lama, seiring kebutuhan tempat tinggal yang terus mendesak.
“Total semua kurang lebih 1.500 sampai 2.000 jiwa. Total bangunan sekitar 450 bangunan,” ujar Hendri saat dihubungi, Rabu (11/2/2026).
Menurut dia, banyak warga membangun rumah sekadar untuk berteduh, tanpa mempertimbangkan tata ruang atau sirkulasi udara. Sekitar 150 rumah memiliki lantai dua yang menutup bagian atas gang. Pembangunan kerap dilakukan tanpa izin lingkungan setempat.
Akibatnya, cahaya matahari sulit menembus lorong-lorong tersebut. Suasana lembap terasa sepanjang hari, diperparah jemuran pakaian yang menggantung di depan rumah. Di siang bolong sekalipun, lampu-lampu kecil tetap menyala untuk menerangi jalan.
“Mereka tidak memikirkan hal itu, konsepnya mereka hanya bikin bangunan,” kata Hendri.
Namun, di tengah ruang yang redup dan pengap, kehidupan tetap berjalan.
Martha (40), salah satu warga, telah tinggal di sana sejak kecil. Rumah yang ditempatinya kini merupakan warisan orangtuanya. “Saya sudah dari umur enam tahun di sini, rumah sendiri,” ujarnya.
Ia mengakui gang di lingkungannya memang minim cahaya sejak dulu. Sumber penerangan hanya lampu kecil di depan rumah. Jika listrik padam, lorong seketika tenggelam dalam gelap.
Martha menyadari kondisi tersebut tidak ideal bagi kesehatan. Minimnya sinar matahari dan sirkulasi udara membuat lingkungan terasa lembap. Namun, ia tak memiliki banyak pilihan.
Di balik dinding-dinding yang berdempetan dan lorong tanpa cahaya itu, warga Muara Baru terus menyalakan hidup—dengan lampu kecil di teras rumah, dengan obrolan tetangga di gang sempit, dan dengan harapan bahwa suatu hari, ruang tinggal mereka bisa mendapat cahaya yang lebih layak.
Sumber:Kompas.com
