SBCNews.id-Isra Miraj selalu menjadi peristiwa sakral yang menggetarkan hati umat Islam. Namun di Indonesia, peringatan perjalanan agung Nabi Muhammad SAW ini tak hanya hidup dalam doa dan dzikir, melainkan juga menyatu dengan denyut budaya lokal. Dari barat hingga timur Nusantara, tradisi masyarakat menghadirkan wajah Isra Miraj yang beragam, sarat makna, dan penuh kearifan.
Di Jawa Tengah, peringatan Isra Miraj kerap menjelma menjadi pesta cahaya. Di kota-kota seperti Solo dan Yogyakarta, pawai lampion menghiasi jalanan malam, memancarkan simbol perjalanan spiritual yang penuh cahaya. Lampu warna-warni berarak perlahan, diiringi lantunan shalawat. Tak jarang, kirab budaya hingga pagelaran wayang kulit digelar sebagai medium dakwah, mengajarkan nilai-nilai keislaman melalui bahasa tradisi yang akrab di hati masyarakat.
Sementara itu, suasana berbeda terasa di Aceh. Daerah yang dikenal sebagai Serambi Mekkah ini merayakan Isra Miraj dengan nuansa khusyuk dan penuh perenungan. Malam-malam diisi dengan pembacaan Al-Qur’an, ceramah keagamaan, serta shalat berjamaah di masjid-masjid. Keheningan malam berpadu dengan doa, menghadirkan refleksi mendalam tentang makna shalat sebagai inti dari peristiwa Isra Miraj.
Keunikan lain tampak di Bali. Di tengah dominasi budaya Hindu, umat Islam di Pulau Dewata merayakan Isra Miraj dengan sentuhan seni lokal. Tari kecak, mekotekan, hingga karnaval budaya menjadi simbol harmoni dan toleransi. Kostum tradisional, musik daerah, dan ekspresi seni menjadi sarana syiar yang ramah, menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam dapat berjalan seiring dengan kearifan lokal.
Di kawasan timur Indonesia, khususnya Makassar, peringatan Isra Miraj berlangsung meriah lewat pawai Kapurung. Masyarakat mengenakan busana adat Bugis sambil menampilkan hiasan tradisional. Pertunjukan seni seperti tarian Ma’gellu dan Ma’randing menjadi daya tarik tersendiri, menghadirkan semangat kebersamaan sekaligus kebanggaan akan identitas budaya.
Adapun di Kalimantan, malam ta’lim menjadi inti peringatan. Warga berkumpul membaca ayat suci, mendengarkan tausiyah, dan mempererat silaturahmi. Di beberapa daerah, pertunjukan kuda lumping turut memeriahkan suasana, menghadirkan energi tradisi yang berpadu dengan pesan spiritual.
Keberagaman cara memperingati Isra Miraj ini menjadi cermin kekayaan budaya Indonesia. Di balik perbedaan bentuk perayaan, tersimpan pesan yang sama: menguatkan iman, meneguhkan shalat, dan merawat harmoni sosial. Isra Miraj di Nusantara bukan sekadar peringatan sejarah, melainkan perjumpaan indah antara iman dan budaya yang terus hidup dari generasi ke generasi. (*)
