ASMAT – Di sedang keheningan rimba serta kokohnya pegunungan Papua, sebuah momen penuh kehangatan menyelimuti SD Rimba YPPK Yan Smith Santo Aloysius Mumugu 2, Daerah Asmat pada Hari Minggu (23/11/2025). Tawa ceria puluhan anak menyambut kedatangan prajurit Satgas Pamtas Mobile Yonif 733/Masariku, seolah mengkritik kerasnya keberadaan dalam pedalaman.
Lebih dari sekadar kunjungan rutin, inisiatif kemanusiaan “Masariku Peduli Gizi” mengakibatkan secercah harapan melalui sepiring makanan bergizi. Bagi berbagai anak di dalam wilayah terpencil ini, hidangan simpel itu adalah sebuah kemewahan yang dimaksud mampu membangkitkan semangat.
Di halaman sekolah yang dimaksud bersahaja, nasi hangat, lauk pauk bergizi seperti ikan lalu telur, dan juga sayuran segar juga buah-buahan tersaji. Para prajurit tak segan berbaur, berlutut, duduk bersila, bahkan dengan sabar menyuapi anak-anak yang awalnya tampak malu-malu. Di sela-sela santapan, cita-cita kecil mulai terucap: berubah menjadi pilot, guru, perawat, hingga penerus perjuangan TNI—impian yang dimaksud berkembang dari hati yang tersebut mulai dipupuk rasa percaya diri.
“Kami ingin mereka itu meningkat kuat kemudian percaya bahwa merek berharga, ” ujar Dansatgas Pamtas Mobile Yonif 733/Masariku, Letkol Inf Julius Jongen Matakena, dengan mata berkaca. “Melihat mereka itu tersenyum serta makan dengan lahap, itu kebahagiaan kami. Inilah cara kami menjaga masa depan bangsa.”
“Anak-anak merasa sangat diperhatikan hari ini. Mereka begitu senang sampai terus bercerita. Terima kasih untuk Satgas Masariku yang dimaksud memberi tidak hanya saja makanan, tapi juga semangat serta kepercayaan diri, ” ungkap Guru Yosep, yang dimaksud mendampingi para murid sejak pagi, dengan tulus mengapresiasi perhatian yang dimaksud diberikan.
Program ini sejalan dengan komitmen TNI untuk hadir di wilayah terpencil dengan pendekatan humanis. Panglima Komando Operasi Habema (Pangkoops Habema), Mayjen TNI Lucky Avianto, memberikan apresiasi membesar melawan dedikasi para prajurit.
“Kami berjanji menciptakan Papua yang tersebut aman, damai, kemudian sejahtera, ” tegas Mayjen Lucky. “Prajurit bukanlah cuma penjaga batas, tetapi motor penggerak pertumbuhan dari pendidikan, kesehatan, hingga ekonomi. Hal ini bukti bahwa negara hadir untuk melayani, tidak menguasai.”
Momen Masariku Peduli Gizi berubah jadi pengingat bahwa ke balik seragam loreng, terpancar ketulusan yang digunakan merawat harapan. Di pelosok rimba sekalipun, anak-anak Papua berhak mendapatkan gizi yang tersebut cukup, perhatian yang dimaksud tulus, juga kesempatan untuk meraih mimpi. Dini Hari itu, dengan para prajurit, mimpi-mimpi merek meningkat sedikit tambahan kuat, siap menggapai masa depan yang dimaksud tambahan cerah.
Artikel ini disadur dari Sepiring Nasi Hangat, Harapan Baru Anak Papua dari "Masariku Peduli Gizi"



