HomePendidikanUWKS dan Pondok Kasih Susun Modul Praktis untuk Perkuat Kompetensi Relawan Sosial

UWKS dan Pondok Kasih Susun Modul Praktis untuk Perkuat Kompetensi Relawan Sosial

SBCNEWS.id — Upaya meningkatkan kapasitas relawan sosial terus dilakukan melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan lembaga pelayanan sosial. Program Studi Kesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS) bersama Yayasan Pondok Kasih (YPK) Surabaya kini mematangkan modul pelatihan yang ditujukan sebagai panduan praktis bagi relawan di lapangan.

Penyempurnaan modul tersebut dibahas dalam pertemuan Tim Pengabdian kepada Masyarakat (Pengmas) Prodi Kesejahteraan Sosial FISIP UWKS dengan Divisi Program YPK di Ruang Rapat FISIP UWKS lantai 3, Surabaya, Kamis (1/10/2026).

Pertemuan berlangsung pukul 10.00–12.00 WIB dan menjadi bagian lanjutan dari rangkaian kerja sama kedua lembaga. Sebelumnya, pada 25 September 2026, FISIP UWKS dan YPK telah melaksanakan pelatihan penyusunan asesmen kasus bagi relawan sosial.

Modul yang dikembangkan diarahkan untuk menjawab kebutuhan relawan dalam melakukan asesmen secara lebih sistematis, khususnya ketika menghadapi persoalan yang berkaitan dengan individu dan keluarga.

Ketua Tim Pengmas FISIP UWKS, Sugeng Pujileksono, menekankan pentingnya keterlibatan praktisi dalam proses penyusunan modul. Menurutnya, pengalaman lapangan diperlukan agar materi yang dikembangkan tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga mudah diterapkan.

“Kami mengucapkan terima kasih atas kehadiran dan masukan dari Divisi Program Yayasan Pondok Kasih. Masukan dari para praktisi sangat penting agar modul yang disusun benar-benar sesuai dengan kebutuhan relawan sosial dan dapat diterapkan dalam praktik pelayanan sosial,” ujar Sugeng.

Asesmen Mikro Jadi Fokus Pembahasan

Salah satu materi utama yang menjadi perhatian dalam penyempurnaan modul adalah asesmen kasus mikro atau individual.

Materi tersebut dirancang untuk membantu relawan memahami kondisi individu maupun keluarga secara lebih menyeluruh sebelum menentukan bentuk pelayanan sosial yang diperlukan.

Bagi Sihar Lauren Lubis dari Divisi Program YPK, pendekatan asesmen mikro memberikan pengalaman baru. Selama ini, aktivitas yang lebih banyak dilakukan berkaitan dengan asesmen berbasis komunitas.

“Asesmen kasus mikro atau individual bagi saya merupakan hal baru. Selama ini saya lebih sering menangani komunitas dan melaksanakan asesmen komunitas berdasarkan pengalaman yang saya miliki. Materi ini sangat menarik dan menjadi pengalaman baru,” kata Sihar.

Masukan lain datang dari Hendri Yohanes. Ia mendorong agar modul memberikan penjelasan lebih detail mengenai pengertian dan kriteria relawan sosial.

Kejelasan tersebut dinilai penting agar modul memiliki sasaran pengguna yang jelas dan materi yang diberikan dapat disesuaikan dengan karakteristik relawan yang berada di lapangan.

Sementara itu, Heru Dwi Herbowo dari FISIP UWKS mengusulkan agar modul memasukkan penggunaan genogram dan ecomap sebagai instrumen dalam asesmen kasus mikro.

Genogram dapat digunakan untuk memetakan struktur dan hubungan keluarga. Sedangkan ecomap membantu menggambarkan hubungan individu atau keluarga dengan lingkungan sosial serta sumber dukungan yang tersedia.

Kedua instrumen tersebut diharapkan membuat proses asesmen menjadi lebih komprehensif. Relawan tidak hanya berfokus pada persoalan yang dialami penerima layanan, tetapi juga dapat melihat dinamika keluarga, lingkungan sosial, serta potensi sumber daya yang dapat dimanfaatkan.

Dari Pengetahuan Kampus ke Praktik Lapangan

Penyusunan modul menjadi salah satu luaran kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Prodi Kesejahteraan Sosial FISIP UWKS.

Melalui modul tersebut, pengetahuan dan pendekatan akademik diharapkan dapat diterjemahkan menjadi perangkat pembelajaran yang mudah digunakan oleh relawan dalam menjalankan pelayanan sosial.

Modul direncanakan hadir dalam dua bentuk, yakni versi cetak dan elektronik atau e-modul. Kehadiran dua format tersebut diharapkan memudahkan pengguna, baik ketika mengikuti pelatihan maupun saat membutuhkan panduan ketika berada di lapangan.

Stevanus Jordan Eko S. dari Divisi Program YPK menilai modul tersebut dapat memberikan manfaat langsung bagi pengembangan kapasitas sumber daya manusia di lingkungan Yayasan Pondok Kasih.

“Penyusunan modul semacam ini sangat bermanfaat bagi kami yang ada di Divisi Program, khususnya untuk peningkatan kapasitas relawan sosial kami,” ujarnya.

Lexi Karongkong juga menilai kolaborasi antara perguruan tinggi dan lembaga sosial memiliki nilai penting karena mempertemukan pengalaman praktis dengan pendekatan akademik.

Kerja sama tersebut sekaligus membuka peluang pengembangan materi pelatihan lainnya. Salah satu yang berpotensi dikembangkan adalah materi asesmen komunitas, mengingat Divisi Program YPK selama ini banyak menjalankan program berbasis masyarakat.

Dengan pengembangan materi yang lebih luas, peningkatan kapasitas relawan nantinya tidak hanya mencakup kemampuan melakukan asesmen individu dan keluarga, tetapi juga kemampuan membaca kebutuhan, potensi, sumber daya, dan persoalan sosial dalam lingkup komunitas.

Pertemuan penyempurnaan modul kemudian ditutup dengan sesi foto bersama Tim Pengmas Prodi Kesejahteraan Sosial FISIP UWKS dan Divisi Program Yayasan Pondok Kasih Surabaya.

Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya mempertemukan kekuatan perguruan tinggi dan lembaga kesejahteraan sosial untuk menghasilkan perangkat pembelajaran yang aplikatif. Modul yang disusun diharapkan dapat menjadi bekal bagi relawan dalam memberikan pelayanan sosial yang lebih terarah, sistematis, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments