HomeKulinerPasar Blauran Baru yang Pelan-Pelan Kehilangan Suara

Pasar Blauran Baru yang Pelan-Pelan Kehilangan Suara

Pagi di kawasan Blauran tak pernah benar-benar sepi. Kendaraan tetap berlalu-lalang, klakson bersahut-sahutan, dan derap langkah orang-orang menuju kantor, sekolah atau pusat perbelanjaan modern di seberangnya terus mengalir. Namun, begitu kaki melangkah masuk ke bangunan Pasar Blauran Baru, suasananya berubah. Riuh yang dulu menjadi denyut utama pasar ini kini tersisa gema—seperti suara yang pernah keras, lalu perlahan menjauh.

Pasar Blauran Baru berdiri di lokasi strategis, tepat di jantung Kota Surabaya. Ia bukan sekadar pasar tradisional, melainkan simpul penting ekonomi kota sejak puluhan tahun lalu. Pada masanya, pasar ini dikenal luas sebagai pusat perdagangan emas, tempat jual beli perhiasan terbesar dan paling bergengsi di Surabaya. Bersamaan dengan itu, Blauran juga menjadi ruang pertemuan sosial: tempat warga berburu kebutuhan, bertukar kabar, dan menikmati kuliner khas yang tak ditemukan di tempat lain.

Bekas Toko Emas yang kini tutup

Hari ini, sebagian kejayaan itu masih bisa dikenali, tetapi lebih banyak hadir sebagai kenangan. Lorong-lorong pasar tampak panjang dan berliku. Beberapa kios masih buka, namun tak sedikit yang tertutup rapat dengan rolling door berdebu. Lampu-lampu neon yang menggantung di langit-langit tampak redup, memantulkan cahaya pucat ke lantai yang telah aus dimakan usia. Di beberapa titik, suasana terasa lengang, bahkan bagi sebagian orang tampak “seram”, karena terlalu banyak ruang kosong yang dulu ramai.

Bagi Kusnan, pedagang buku bekas berusia 68 tahun, perubahan itu bukan sekadar pemandangan, melainkan kenyataan hidup sehari-hari. Lebih dari dua dekade ia menggantungkan hidup dari lapak kecilnya di Pasar Blauran Baru. “Sekarang kondisinya ancur jualannya, nggak bisa untung,” ungkap Kusnan lirih. Ia kerap duduk berjam-jam menunggu pembeli yang tak kunjung datang. Buku-buku yang dulu cepat berpindah tangan kini hanya dibolak-balik sebentar, lalu diletakkan kembali.

Ia mengingat masa ketika Pasar Blauran Baru benar-benar hidup. Orang datang silih berganti, bukan hanya untuk berbelanja, tetapi juga sekadar berjalan-jalan. Pasar menjadi ruang sosial yang hangat, bukan sekadar tempat transaksi.

Kenangan serupa juga hidup di ingatan para pedagang emas. Pada era 1990-an, Blauran dikenal sebagai pusat emas Surabaya. Ada keyakinan yang hampir menjadi pepatah: siapa pun yang ingin membeli emas, pasti ke Blauran. Toko-toko emas berjajar rapat, dengan etalase berkilau dan pembeli yang antre menunggu giliran.

Sunyoto, salah satu pedagang emas yang masih bertahan, menyaksikan perubahan itu dari dekat. Ia menyebut penurunan mulai terasa sejak sekitar 2010, ketika pusat perbelanjaan modern tumbuh pesat di berbagai sudut kota. “Dulu sangat ramai sekali. Kalau ke sini ya pasti beli emas,” kenang pria yag akrab disapa Cak To ini.

Kini, banyak rekan seprofesinya memilih menutup toko atau pindah ke mal, tempat yang dianggap lebih nyaman, aman, dan sesuai dengan selera konsumen baru.

Peralihan itu membuat wajah Blauran berubah. Ia bukan lagi pusat perdagangan emas, melainkan kawasan yang mencari kembali identitasnya.

Di tengah meredupnya fungsi lama, Pasar Blauran Baru tetap bertahan sebagai ruang kuliner tradisional. Justru di sinilah denyut yang masih terasa. Sejak lama, pasar ini dikenal sebagai pusat jajanan dan makanan khas Surabaya. Dawet, lontong mie, pangsit mie, rujak cingur, soto ayam dan jajan pasar—semuanya pernah menjadikan Blauran sebagai destinasi wajib bagi pencinta kuliner, bahkan dari luar kota.

Kuliner khas Blauran yang masih bertahan

Sutiah, 69 tahun, adalah saksi hidup masa itu. Sejak 1980, ia berjualan pangsit mie di Pasar Blauran Baru. Dulu, dagangannya bisa laku hingga 100 bungkus per hari. Antrean pembeli mengular, terutama saat jam makan siang. Kini, angka itu tinggal cerita. Di hari biasa, ia hanya mampu menjual kurang dari 40 bungkus. Akhir pekan sedikit lebih baik, sekitar 50 bungkus. Pandemi Covid-19 memperparah keadaan, memutus kebiasaan orang datang ke pasar dan mendorong peralihan ke layanan daring.

Pedagang lain merasakan hal serupa. Nur Aini, 35 tahun, penjual dawet, mengaku pendapatannya sangat bergantung pada keramaian pengunjung. Jika ramai, dua hari bisa mengantongi Rp1,5 juta. Namun saat sepi, penghasilan kotornya merosot hingga sekitar Rp500 ribu. Ketidakpastian itu menjadi bagian dari keseharian pedagang kecil di Blauran.

Meski demikian, Pasar Blauran Baru belum sepenuhnya kehilangan daya tarik. Masih ada pengunjung yang datang karena rindu pada rasa dan suasana yang tak bisa digantikan mal atau kafe modern. Isneny, 20 tahun, salah satunya. Ia datang khusus untuk mencicipi dawet khas Surabaya, merasakan langsung kuliner yang selama ini hanya ia dengar dari cerita orang tua.

Bagi generasi muda seperti Isneny, Blauran adalah ruang perjumpaan dengan masa lalu kota. Sebuah pengalaman yang berbeda dari pusat perbelanjaan berpendingin udara dan serba seragam.

Namun, kerinduan itu sering berbenturan dengan kenyataan fisik pasar yang kurang terawat. Banyak pengunjung mengeluhkan kondisi pasar yang panas, pencahayaan minim, dan penataan yang semrawut. Endah, seorang pembeli, menyebut bahwa jika pasar dibuat lebih bersih dan nyaman—bahkan sekadar diberi pendingin udara—orang akan lebih betah berlama-lama.

Harapan serupa digaungkan para pedagang. Mereka tidak menuntut kemewahan, hanya ingin Pasar Blauran Baru diperlakukan sebagai bagian penting dari warisan kota. Bagi mereka, pasar ini bukan sekadar tempat mencari nafkah, tetapi ruang hidup yang menyimpan sejarah Surabaya.

Di tengah gempuran modernisasi, Pasar Blauran Baru berdiri dalam posisi rapuh: belum sepenuhnya ditinggalkan, tetapi juga belum dipulihkan. Ia berada di antara kenangan dan kemungkinan. Di lorong-lorongnya yang sunyi, tersimpan cerita tentang emas yang pernah berkilau, jajanan yang pernah diburu, dan manusia-manusia yang masih bertahan.

Pasar Blauran Baru hari ini adalah potret kota yang berubah—tentang bagaimana pusat kehidupan bisa bergeser, tentang siapa yang tertinggal, dan tentang pertanyaan besar yang masih menggantung: apakah pasar ini akan diberi kesempatan untuk hidup kembali, atau perlahan tenggelam bersama ingatan para pedagang tuanya.(Vin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here