SBCNews. Id— Deru kendaraan yang tak henti mengitari bundaran tugu ikonik di depan Balai Kota Malang menjadi saksi bisu perjuangan seorang perempuan paruh baya bernama Fusia.
Di tengah hiruk-pikuk kota, ia berdiri dengan gerobak kayu sederhana, menjajakan jenang campur atau yang akrab dikenal sebagai bubur Madura.
Dengan langkah perlahan, Fusia mendorong gerobaknya menyusuri jalanan kota. Dari satu gedung pemerintahan ke gedung lainnya, ia mencari rezeki.
Salah satu titik yang kerap ia singgahi adalah kawasan DPRD Kota Malang.Namun, perjalanan itu tidak selalu mudah.
Di usianya yang telah menginjak kepala enam, tenaga Fusia tak lagi sekuat dulu. Ia kerap berhenti di tengah perjalanan—bukan karena menyerah, melainkan karena kondisi fisiknya yang mulai menurun.
Tangan rentanya kini sering gemetar. Berbeda dengan puluhan tahun silam, saat ia pertama kali memulai usaha ini dengan tenaga yang masih prima. Meski begitu, rute yang ia tempuh tetap sama, seakan menjadi bagian dari hidup yang tak terpisahkan.
Sebagai ibu dari tiga anak dan nenek dari tiga cucu, Fusia tetap bertahan menjalani rutinitasnya. Baginya, berjualan bukan sekadar mencari penghasilan,
tetapi juga tentang bertahan hidup—asal cukup makan dan tetap sehat.Kisah Fusia menjadi potret keteguhan dan kerja keras di tengah keterbatasan, sekaligus pengingat bahwa semangat hidup tak mengenal usia.



