HomeBencana AlamMahasiswa K3 UNUSA Ciptakan Rambu Evakuasi Tsunami Berbasis Sensor, Dilengkapi Sirine dan...

Mahasiswa K3 UNUSA Ciptakan Rambu Evakuasi Tsunami Berbasis Sensor, Dilengkapi Sirine dan Monitoring Real-Time

SBCNEWS.id – Lima mahasiswa Program Studi D4 Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) menghadirkan inovasi untuk mendukung kesiapsiagaan menghadapi bencana tsunami.

Melalui prototipe bernama SafeLight Tsunami Route, mereka mengembangkan rambu evakuasi berbasis sensor yang dirancang untuk memberikan informasi kondisi bahaya secara adaptif dan real-time.

Inovasi tersebut berhasil memperoleh pendanaan dalam Program Kreativitas Mahasiswa-Karsa Cipta (PKM-KC) 2026, salah satu skema Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Kemdiktisaintek.

Kelima mahasiswa pengembang inovasi tersebut yakni Rofiq Arroyan, Nadea Putri Wahyuni, Cicilia Febriana Mayangsari, Rachmalia Eka Putri, dan Angga Adi Nugroho, dengan dosen pembimbing Merry Sunaryo, S.K.M., M.KKK.

SafeLight Tsunami Route dikembangkan sebagai upaya meningkatkan fungsi rambu evakuasi yang umumnya hanya memberikan petunjuk arah secara statis. Melalui integrasi sensor dan sistem monitoring, rambu ini dirancang dapat memberikan informasi berdasarkan kondisi yang terdeteksi di lingkungan.

“SafeLight Tsunami Route mengintegrasikan teknologi sensor, sistem monitoring, serta indikator visual dan suara untuk membantu menyampaikan informasi mengenai kondisi bencana kepada masyarakat,” ujar tim pengembang.

Menggabungkan Sensor Darat dan Laut

Salah satu keunikan SafeLight Tsunami Route terletak pada integrasi dua subsistem, yakni sistem darat dan laut.

Pada sistem darat, perangkat menggunakan mikrokontroler ESP32 dan sensor getaran MPU6050 untuk membaca aktivitas atau getaran yang berkaitan dengan gempa.

Sementara itu, subsistem laut menggunakan sensor pelampung untuk memantau perubahan muka air laut yang menjadi salah satu parameter dalam sistem peringatan.

Data yang diperoleh dari kedua subsistem tersebut kemudian diproses untuk menentukan kondisi yang akan ditampilkan melalui indikator rambu.

Sistem indikator memiliki tiga kondisi. Lampu hijau menandakan kondisi aman. Lampu kuning yang disertai sirine menunjukkan kondisi gempa atau kewaspadaan.

Sedangkan lampu merah dengan sirine berintensitas lebih tinggi menjadi indikator adanya potensi tsunami dan masyarakat diarahkan untuk segera mengikuti prosedur evakuasi.

Dapat Memantau Kondisi Secara Real-Time

Tidak hanya mengandalkan lampu dan sirine, prototipe tersebut juga dilengkapi sistem monitoring. Data sensor dapat dikirimkan melalui modem MiFi menuju sistem pemantauan.

Tingkat guncangan yang terdeteksi juga ditampilkan menggunakan Modified Mercalli Intensity (MMI) sebagai representasi intensitas guncangan.

Untuk mendukung penggunaan di wilayah pesisir, perangkat tersebut menggunakan panel surya sebagai sumber energi mandiri. Energi dari panel surya diatur menggunakan solar charge controller sebelum disimpan dalam baterai.

Kebutuhan daya berbagai komponen elektronik kemudian disesuaikan menggunakan konverter tegangan.

Komponen elektronik utama juga ditempatkan di dalam box pelindung sebagai bagian dari penyesuaian perangkat terhadap kondisi lingkungan pesisir.

Telah Dirakit dan Diuji

Sebelum dikembangkan lebih lanjut, SafeLight Tsunami Route telah melewati proses perakitan dan pengujian. Evaluasi dari proses tersebut digunakan untuk menyempurnakan sejumlah bagian perangkat.

Beberapa aspek yang diperbaiki meliputi rangkaian elektronik, konfigurasi LED RGB, pemrograman sistem monitoring, hingga penyajian informasi tingkat guncangan menggunakan skala MMI.

Bagi para mahasiswa, pengembangan SafeLight Tsunami Route menjadi bentuk penerapan ilmu K3 yang tidak hanya berkaitan dengan keselamatan di lingkungan kerja, tetapi juga kesiapsiagaan dan mitigasi bencana.

“Melalui pendekatan berbasis teknologi, kami tidak hanya mengembangkan perangkat, tetapi juga berupaya menghadirkan solusi yang dapat mendukung penyampaian informasi dalam situasi darurat,” kata tim.

Tim berharap prototipe tersebut dapat dikembangkan lebih lanjut sebagai perangkat pendukung penyampaian informasi kondisi bencana dan evakuasi, terutama bagi masyarakat yang tinggal maupun beraktivitas di kawasan pesisir yang memiliki potensi gempa bumi dan tsunami.

Dengan memadukan sensor, Internet of Things (IoT), indikator visual dan suara, sistem monitoring real-time, serta energi surya, SafeLight Tsunami Route dikembangkan sebagai rambu evakuasi yang dapat merespons kondisi lingkungan berdasarkan data yang diterima.

Inovasi tersebut sekaligus menunjukkan penerapan keilmuan mahasiswa K3 dalam lingkup yang lebih luas, yakni mendukung keselamatan masyarakat dan kesiapsiagaan menghadapi bencana.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments