SBCNews.id — Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar menegaskan bahwa pendidikan agama yang mengedepankan cinta dan kemanusiaan menjadi kunci menjaga harmoni umat beragama di wilayah majemuk seperti Maluku. Pesan itu disampaikan dalam Temu Tokoh Lintas Agama Provinsi Maluku yang mengangkat tema Ekoteologi dan Kurikulum Cinta, Jumat (16/1/2026).
Forum tersebut dihadiri tokoh agama, tokoh masyarakat, perwakilan organisasi keagamaan, serta masyarakat lintas iman. Pertemuan itu digelar sebagai upaya memperkuat kerukunan dan persatuan sosial di tengah keberagaman agama dan budaya Maluku.
Dalam arahannya, Menteri Agama menekankan bahwa kurikulum cinta harus dipahami sebagai pendekatan pendidikan nilai, bukan sekadar konsep normatif. Nilai cinta, toleransi, dan kepedulian sosial, menurut dia, mesti ditanamkan sejak dini dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, tidak berhenti di ruang kelas. “Seharusnya lebih mudah menemukan persamaan dan titik temu dari keragaman agama kita daripada perbedaannya. Pada dasarnya, semua agama mengajarkan cinta,” jelas Menteri Agama.

Imam besar Masjid Istiqlal ini mengingatkan bahwa agama memiliki daya pengaruh besar dalam kehidupan sosial. Karena itu, pemahaman keagamaan yang keliru berpotensi memicu konflik, sementara pemahaman yang tepat justru dapat menjadi kekuatan perdamaian. “Agama itu seperti nuklir. Ia bisa menjadi kekuatan positif yang luar biasa. Namun jika salah dipahami, ia juga bisa menjadi kekuatan negatif yang dahsyat,” tegasnya.
Nasaruddin juga mendorong para tokoh agama untuk terus memperkuat persaudaraan lintas iman. Ia menegaskan bahwa persaudaraan tidak boleh disekat oleh perbedaan agama, melainkan dibangun atas dasar kemanusiaan dan keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa. “Dalam ajaran agama disebutkan bahwa setiap orang beriman adalah saudara, bukan hanya satu agama saja,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Maluku, Yamin, mengatakan pertemuan lintas agama ini menjadi momentum strategis untuk menjaga kerukunan yang selama ini terpelihara di Maluku. Menurut dia, keragaman agama dan budaya di Maluku merupakan kekayaan sosial yang perlu dirawat bersama. “Maluku adalah miniatur Indonesia. Keragaman ini harus menjadi kekuatan, bukan sumber perpecahan,” kata Yamin.
Dalam kunjungan tersebut, Menteri Agama juga meresmikan enam fasilitas keagamaan dan layanan publik di Maluku. Peresmian dengan menandatangani prasasti, antara lain Masjid Ashabul Yamin Kanwil Kemenag Provinsi Maluku, Pusat Layanan Haji dan Umrah Terpadu Kankemenag Kota Ambon, Gedung Kankemenag Kota Tual, Gedung Ruang Kelas MTsN 3 dan MIN 2 Maluku Tenggara, serta Balai Nikah dan Manasik Haji KUA Leihitu.
Melalui kegiatan ini, Kementerian Agama berharap para tokoh lintas agama dapat berperan aktif sebagai agen perdamaian dengan menyebarkan pesan cinta kasih, toleransi, serta kepedulian terhadap lingkungan hidup sejalan dengan semangat ekoteologi dan kurikulum cinta.(Vin)
