Oleh: Gus Bahar Halim Mahfudz
SBCNEWS.id – Ada pemandangan yang semakin akrab sekaligus merisaukan dalam kehidupan modern. Berbagai belahan dunia terus diwarnai ketegangan sosial, gerakan kebudayaan, hingga demonstrasi mahasiswa. Sejumlah pengamat mengaitkan gejala tersebut dengan kegagalan kebijakan publik, ketimpangan ekonomi, maupun instabilitas politik. Namun, persoalan itu juga dapat dibaca dari sisi yang lebih mendasar, yakni melemahnya kesadaran untuk memberi dan menghadirkan manfaat bagi sesama.
Al-Qur’an melalui Surah Ali ‘Imran ayat 134 menggambarkan karakter orang-orang beriman sebagai mereka yang senantiasa berinfak, baik dalam keadaan lapang maupun sempit (al-ladzīna yunfiqūna fis-sarrā’i wad-darrā’i). Nilai memberi dalam konteks ini tidak terbatas pada materi, tetapi juga mencakup tenaga, ilmu, perhatian, dan doa.
Ketika kehidupan bersama lebih banyak digerakkan oleh keinginan mengumpulkan keuntungan pribadi daripada semangat memberikan kontribusi, ikatan sosial berisiko melemah. Sesama manusia tidak lagi dipandang sebagai saudara dalam kemanusiaan, melainkan sebagai pesaing dalam perebutan kepentingan. Ketidakpedulian yang terus menumpuk dapat melahirkan kekecewaan dan ketegangan di tengah masyarakat.
Ironisnya, lembaga pendidikan, kampus, pesantren, serta kalangan pendidik yang semestinya menjadi penjaga nilai moral juga menghadapi tantangan serupa. Institusi pendidikan berisiko terjebak dalam orientasi administratif, komersial, dan pencapaian simbolis. Akreditasi, fasilitas fisik, serta capaian akademis memang penting, tetapi tidak semestinya menggeser tujuan pendidikan dalam membentuk manusia yang berilmu sekaligus memiliki kepekaan sosial.
Ketika Teknologi dan Pendidikan Kehilangan Arah
Rasulullah SAW dalam sebuah hadis menyebut dunia sebagai sijnul mu’min, yakni penjara bagi orang-orang beriman. Pesan tersebut bukan ajakan untuk membenci kemajuan atau menjauhkan diri dari kehidupan dunia. Sebaliknya, hadis itu dapat menjadi pengingat bahwa kehidupan dunia membutuhkan kendali moral agar manusia tidak diperbudak oleh ambisi, kekuasaan, dan hawa nafsu.
Tantangan tersebut semakin nyata dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Teknologi yang seharusnya membantu menyelesaikan persoalan kemanusiaan dapat pula digunakan untuk kepentingan yang hanya berorientasi pada keuntungan material. Ekosistem digital, misalnya, dapat mendorong ketergantungan, memupuk budaya pamer, memperkuat kecemburuan sosial, dan mengurangi kualitas interaksi antarmanusia apabila tidak digunakan secara bijaksana.
Persoalan orientasi ini juga terlihat dalam dunia pendidikan. Pendidikan yang semestinya menjadi ruang pengembangan akal budi dan pembentukan karakter berisiko direduksi menjadi sarana mencetak tenaga kerja. Keberhasilan kemudian lebih sering diukur melalui angka, gelar akademis, dan kemegahan fasilitas, sementara pembentukan empati serta tanggung jawab sosial kurang mendapat perhatian.
Padahal, Surah Al-Zalzalah ayat 7–8 mengingatkan bahwa setiap perbuatan baik maupun buruk, sekalipun seberat zarah, akan mendapatkan balasan. Ayat tersebut mengajarkan pentingnya kualitas amal dan tanggung jawab manusia atas setiap tindakannya. Kebaikan tidak selalu harus diwujudkan melalui tindakan besar; kontribusi kecil yang dilakukan dengan tulus pun memiliki nilai.
Ketika pendidik hanya berorientasi pada capaian material dan administratif, kepekaan terhadap persoalan sosial di sekitarnya dapat semakin berkurang. Karena itu, pendidikan perlu kembali menempatkan kepedulian dan pembentukan karakter sebagai bagian penting dari proses pembelajaran.
Menghidupkan Kembali Kesadaran Lahir dan Batin
Untuk menghadapi disorientasi nilai tersebut, pendidikan perlu dibangun di atas dua kesadaran yang saling melengkapi, yaitu kesadaran lahiriah (ẓāhir) dan kesadaran batiniah (bāṭin).
Kesadaran lahiriah berkaitan dengan kemampuan pendidik melihat kondisi murid dan lingkungan sosial secara jernih. Guru dan kiai tidak cukup hanya menyampaikan materi pembelajaran, tetapi juga perlu memahami persoalan yang dihadapi peserta didik, mengenali ketimpangan di sekitarnya, serta memberikan bantuan nyata sesuai kemampuan.
Sementara itu, kesadaran batiniah berkaitan dengan penataan niat dan ketulusan dalam menjalankan tanggung jawab. Nilai kasih sayang Allah, Ar-Rahman, semestinya tercermin dalam sikap pendidik yang peduli, terbuka, dan tidak semata-mata mengejar pengakuan manusia. Dedikasi dalam mendidik perlu dilandasi keikhlasan serta tanggung jawab moral.
Kedua kesadaran tersebut harus berjalan beriringan. Kepedulian tanpa tindakan nyata akan sulit memberikan perubahan, sedangkan tindakan tanpa ketulusan berisiko kehilangan makna pengabdian.
Melalui perspektif ini, gerakan mahasiswa yang menyuarakan persoalan sosial dapat dilihat sebagai salah satu bentuk kepedulian terhadap kehidupan bersama. Ketika mahasiswa mempertanyakan ketidakadilan, mengkritisi sistem pendidikan, dan memilih hadir bersama masyarakat yang menghadapi kesulitan, mereka menunjukkan bahwa pendidikan tidak semestinya berhenti pada ruang kelas dan pencapaian akademis.
Mahasiswa bukan sekadar penerima pengetahuan, melainkan bagian dari masyarakat yang memiliki tanggung jawab untuk mengamalkan ilmu dan memperjuangkan nilai kemanusiaan. Suara kritis mereka dapat menjadi kontribusi penting dalam mengingatkan berbagai pihak agar tidak kehilangan orientasi moral.
Pada akhirnya, peradaban yang bermartabat tidak cukup dibangun melalui kemajuan teknologi, kekuatan ekonomi, atau banyaknya gelar akademis. Peradaban juga membutuhkan manusia yang memiliki kepedulian, keikhlasan, dan kesediaan untuk memberikan manfaat bagi sesama.
Di tengah berbagai tantangan zaman, kebaikan sekecil apa pun tetap memiliki arti. Sebab, masa depan kemanusiaan tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak yang berhasil dikumpulkan, tetapi juga oleh seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain.



