SBCNews.id JAKARTA – Masyarakat diimbau untuk tidak langsung panik namun tetap waspada terhadap gejala neurologis yang berlangsung lama atau kian memberat. Dokter Spesialis Bedah Saraf RS Premier Bintaro, dr. Moch. Evodia Slamet R., Sp.BS, mengungkapkan bahwa masih banyak salah kaprah di tengah masyarakat yang menganggap semua tumor otak pasti bersifat ganas dan mematikan.
Faktanya, berdasarkan data internasional, mayoritas kasus tumor otak yang ditemukan justru tidak bersifat kanker.
“Berdasarkan data internasional, sekitar 72 persen tumor otak primer bersifat jinak, sedangkan 28 persen lainnya ganas,” ujar dr. Evodia dalam keterangan tertulisnya, Kamis (25/6/2026).
Meski sebagian besar bersifat jinak, dr. Evodia menegaskan bahwa penanganan medis tetap mutlak diperlukan. Hal ini dikarenakan rongga kepala manusia memiliki ruang yang sangat terbatas. Ketika tumor tumbuh—baik jinak maupun ganas—ia akan menekan jaringan otak di sekitarnya dan berpotensi mengganggu fungsi vital serta saraf tubuh.
Kenali Gejala dan Tanda Bahaya (Warning Signs)
Secara medis, tumor otak dibagi menjadi dua kategori besar:
- Tumor Primer: Berasal langsung dari jaringan atau selaput otak.
- Tumor Sekunder (Metastasis): Berasal dari penyebaran kanker di organ tubuh lain, seperti kanker payudara, paru-paru, atau tiroid.Tumor otak dapat berubah menjadi kondisi gawat darurat yang mengancam nyawa jika memicu hidrosefalus (penumpukan cairan di otak) atau perdarahan internal pada tumor. Kondisi ini membutuhkan tindakan medis segera guna mencegah kerusakan otak permanen.
Masyarakat diminta untuk segera melakukan pemeriksaan medis jika mengalami atau melihat kerabat menunjukkan gejala-gejala klinis berikut:
- 1.Sakit kepala kronis yang intensitasnya semakin lama semakin berat.
- 2.Pandangan mata kabur secara perlahan atau mendadak.
- 3.Kejang yang baru pertama kali muncul saat usia dewasa.
- 4.Gangguan keseimbangan tubuh dan kelemahan pada anggota gerak (tangan atau kaki).
- 5.Penurunan fungsi pendengaran.
- 6.Perubahan kepribadian atau perilaku yang drastis.
- 7.Muntah menyemprot (projectile vomiting) yang disertai penurunan kesadaran.
Diagnosis Akurat dan Inovasi Teknologi ‘Tanpa Sayatan’
Untuk mendeteksi secara akurat, pasien biasanya akan diarahkan untuk menjalani pemeriksaan CT Scan atau MRI dengan kontras. Langkah ini penting agar tim dokter dapat melihat lokasi, ukuran, dan karakteristik tumor secara visual beresolusi tinggi.
Seiring perkembangan teknologi kedokteran, penanganan tumor otak kini tidak melulu harus melalui operasi bedah terbuka yang menakutkan. Selain terapi obat, pembedahan endoskopik, dan kemoterapi (untuk kasus ganas seperti glioblastoma), kini hadir teknologi Gamma Knife Radiosurgery.
“Gamma Knife Radiosurgery merupakan prosedur tanpa sayatan yang menggunakan radiasi terfokus untuk mengendalikan pertumbuhan tumor berukuran kecil. Metode tersebut hanya memerlukan satu kali tindakan dan tidak menimbulkan luka operasi,” jelas dr. Evodia.
Pada akhir keterangannya, dr. Evodia kembali menekankan pentingnya deteksi dini. Menunda pemeriksaan karena takut hanya akan memperkecil peluang kesembuhan dan memperbesar risiko komplikasi berat.



