SBCNews.id JAKARTA – Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M. Rizal Taufikurahman, mendorong pemerintah mempercepat ekspor produk bernilai tambah sebagai langkah strategis untuk meningkatkan kinerja ekspor nasional di tengah melemahnya neraca perdagangan.Menurut Rizal, upaya mendorong ekspor tidak cukup hanya melalui promosi dagang.
Pemerintah perlu memperkuat ekspor sektor manufaktur dan industri pengolahan yang memiliki nilai tambah lebih tinggi agar mampu meningkatkan daya saing Indonesia di pasar global.”Strategi mendorong ekspor harus difokuskan pada sektor bernilai tambah tinggi seperti manufaktur, makanan olahan, industri kimia, farmasi, komponen otomotif, tekstil bernilai tambah, serta produk hilirisasi yang tidak berhenti pada barang setengah jadi,” ujarnya di Jakarta, Jumat.
Ia menilai defisit neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 menjadi sinyal melemahnya kinerja ekspor di tengah meningkatnya kebutuhan impor, terutama minyak dan gas (migas) serta bahan baku industri.Ketergantungan Indonesia terhadap impor migas, lanjut Rizal, masih menjadi salah satu faktor utama yang membuat neraca perdagangan rentan terhadap gejolak harga energi dunia. Ketika harga minyak dan volume impor meningkat, tekanan terhadap neraca perdagangan pun ikut membesar.
Selain itu, struktur ekspor Indonesia dinilai masih didominasi komoditas primer yang sangat bergantung pada pergerakan harga global. Karena itu, penguatan hilirisasi dinilai penting agar komoditas seperti logam, kelapa sawit, dan hasil pertanian dapat diolah menjadi produk bernilai tambah sebelum diekspor.
Rizal juga menyarankan pemerintah memperluas pasar ekspor ke negara-negara nontradisional, seperti India, kawasan Timur Tengah, Afrika, dan Amerika Latin, sehingga ketergantungan terhadap pasar utama dapat dikurangi.Dalam jangka pendek, ia mendorong pemerintah melakukan berbagai langkah perbaikan, antara lain menyederhanakan birokrasi ekspor, memperkuat pembiayaan bagi eksportir, mempercepat restitusi pajak, meningkatkan efisiensi logistik pelabuhan, menjamin pasokan bahan baku industri, serta menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Di sisi lain, impor migas perlu ditekan melalui peningkatan efisiensi energi, pemanfaatan sumber energi domestik, serta pengendalian impor barang konsumtif yang dinilai kurang produktif.Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 mengalami defisit sebesar 1,61 miliar dolar AS atau meningkat sekitar 59 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan impor migas akibat melonjaknya harga energi global menjadi faktor utama terjadinya defisit tersebut.



