Tujuh di antaranya merupakan mangrove sejati, sementara dua lainnya berasosiasi dengan ekosistem mangrove
Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengidentifikasi sembilan jenis tumbuhan mangrove dari Tadu Raya, Kabupaten Nagan Raya, Aceh, yang memiliki potensi sebagai tanaman obat. Temuan itu menunjukkan pemanfaatan mangrove oleh masyarakat lokal tidak hanya berkaitan dengan fungsi ekologis kawasan pesisir, tetapi juga dengan pengobatan tradisional.
Peneliti BRIN Alin Fithor menyampaikan, sembilan jenis tersebut terdiri atas tujuh mangrove sejati dan dua tumbuhan yang berasosiasi dengan ekosistem mangrove. Daftar itu disampaikan dalam keterangan di Jakarta pada Jumat.
Sembilan jenis tumbuhan yang diidentifikasi
Tujuh jenis yang tergolong mangrove sejati adalah Avicennia marina, Bruguiera gymnorrhiza, Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, Rhizophora stylosa, Sonneratia alba, dan Sonneratia caseolaris.
Adapun dua tumbuhan yang berasosiasi dengan ekosistem mangrove ialah Acanthus ilicifolius dan Nypa fruticans. Kesembilan jenis tersebut menjadi bagian dari kajian mengenai komposisi spesies dan pemanfaatan tanaman mangrove untuk pengobatan di wilayah barat daya Aceh.
Menurut Alin, masyarakat setempat telah lama menggunakan tumbuhan dari hutan mangrove untuk membantu menjaga kesehatan. Bagian yang paling banyak dimanfaatkan antara lain daun dan buah.
Pemanfaatan tradisional itu berkaitan dengan sejumlah keluhan, seperti memar, luka bakar, cacar air, demam, diare, gatal-gatal, luka pada kulit, sakit perut, sariawan, dan sakit gigi.
Pemanfaatan bakau oleh masyarakat
Salah satu tumbuhan yang digunakan adalah Rhizophora apiculata atau bakau. Masyarakat memanfaatkan daun dan buahnya untuk membantu mengatasi sariawan, sakit gigi, serta luka.
Sementara itu, Rhizophora mucronata dimanfaatkan untuk membantu menangani diare, sakit perut, dan luka pada kulit. Informasi tersebut menggambarkan pengetahuan lokal mengenai penggunaan tumbuhan mangrove yang telah berlangsung di tengah masyarakat.
Namun, pemanfaatan secara tradisional tidak serta-merta membuktikan suatu tumbuhan telah memiliki khasiat medis yang teruji. Alin menegaskan perlunya membedakan tanaman obat tradisional dengan tanaman yang telah terbukti secara ilmiah.
Senyawa bioaktif masih perlu diteliti
Peneliti mencatat adanya sejumlah senyawa bioaktif dalam tumbuhan mangrove, antara lain alkaloid, fenolik, steroid, terpenoid, flavonoid, dan saponin. Senyawa-senyawa tersebut memiliki potensi dalam berbagai aktivitas, termasuk antibakteri, antikanker, antidiabetes, antijamur, antiinflamasi, antitumor, dan antivirus.
Meski demikian, potensi tersebut masih membutuhkan penelitian lanjutan untuk menguji efektivitas farmakologisnya. Dengan demikian, hasil identifikasi BRIN belum dapat dipahami sebagai bukti bahwa seluruh tumbuhan tersebut telah terbukti menjadi obat atau dapat langsung digunakan sebagai pengobatan medis.
Ancaman terhadap habitat mangrove
Selain menyoroti potensi pemanfaatannya, Alin mengingatkan adanya ancaman terhadap habitat mangrove. Penebangan dan pembangunan kawasan pesisir dapat menghilangkan habitat serta mengganggu keberlangsungan ekosistem mangrove.
Temuan tersebut telah dipublikasikan dalam Biodiversitas Journal of Biological Diversity Volume 27 Nomor 3 pada Maret 2026. Artikel penelitian itu berjudul “Species Composition and Medicinal Uses of Mangrove Plants in Southwest Aceh, Indonesia”.
Tim peneliti terdiri atas Alin Fithor, Wintah, Moh. Husein Sastranegara, dan Kiswanto. Kajian tersebut menjadi dasar untuk mendokumentasikan jenis mangrove di Tadu Raya sekaligus mencatat pemanfaatan tradisionalnya oleh masyarakat.



