JEMBER SBCNews.id— Dugaan kasus keracunan massal yang menimpa puluhan siswa dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Jember, Jawa Timur, pada Rabu (20/5/2026) lalu, kini membuka tabir fakta baru yang mengejutkan. Pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kaliwates 3 terindikasi kuat mengabaikan instruksi resmi dari otoritas pusat dengan tetap menyajikan menu yang telah dilarang karena berisiko tinggi memicu kontaminasi pangan.
Berdasarkan dokumen yang dihimpun, Badan Gizi Nasional (BGN) sejatinya telah mengeluarkan surat edaran berkekuatan hukum sejak Januari 2026. Dalam maklumat tersebut, seluruh SPPG di tingkat daerah diperintahkan dengan tegas untuk menghindari beberapa jenis hidangan yang rentan menjadi medium bakteri atau racun, salah satunya adalah menu daging ayam yang disuwir.
Namun, peringatan dini demi keselamatan anak-anak sekolah tersebut tampaknya dipandang sebelah mata. Investigasi menunjukkan bahwa dapur SPPG Al-Mubarrok 88 Kaliwates 3 tetap mendistribusikan menu “Ayam Suwir Bumbu Kuning Kemangi” pada hari nahas tersebut. Tanpa adanya pengawasan ketat, paket makanan berisiko tinggi ini didistribusikan secara masif ke sedikitnya 15 lembaga pendidikan penerima manfaat di wilayah Kecamatan Kaliwates.
Dampak dari kelalaian prosedur ini berujung fatal. Selang beberapa jam setelah jam makan siang, gelombang laporan anak-anak yang mengeluhkan gejala klinis keracunan pangan mulai bermunculan. Sedikitnya 25 siswa dari lima lembaga pendidikan anak usia dini (PAUD) dan taman kanak-kanak (TK) dilaporkan mengalami pusing, mual, hingga muntah-muntah secara simultan setelah menyantap hidangan ayam suwir tersebut.
Berdasarkan data yang dihimpun, berikut adalah lima lembaga pendidikan yang terdampak langsung:
TK Al-Hidayah 01 Kaliwates
RA Hidayatul Mubtadiin Kaliwates
PAUD Qur’an Raudlatul Tulab Kaliwates
PAUD Aster 29 Kaliwates
TK Kuncup Bunga Jember
Sebagai informasi, dalam surat edaran BGN awal tahun lalu, jenis hidangan seperti soto, ayam suwir, ikan tongkol, capcai, dan menu sejenisnya wajib dihindari demi meminimalisasi poten
