HomeEkonomi GlobalAI Jadi Pemicu PHK Massal: Standard Chartered Pangkas 7.000 Karyawan dalam Restrukturisasi...

AI Jadi Pemicu PHK Massal: Standard Chartered Pangkas 7.000 Karyawan dalam Restrukturisasi Global

  • SBCNews.id – Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) kembali mengguncang industri perbankan global setelah bank raksasa asal Inggris, Standard Chartered, mengumumkan rencana restrukturisasi besar-besaran yang akan memangkas lebih dari 7.000 posisi kerja dalam empat tahun ke depan.

Langkah ini diambil sebagai bagian dari strategi transformasi perusahaan yang semakin agresif mengadopsi teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan efisiensi operasional dan memperkuat daya saing di tengah ketatnya persaingan sektor keuangan global.

Pengurangan tenaga kerja tersebut diperkirakan mencapai sekitar 15 persen dari fungsi korporat bank, yang saat ini mencakup sekitar 52.000 karyawan dari total hampir 82.000 pegawai di seluruh dunia.

Direktur Utama Standard Chartered, Bill Winters, menegaskan bahwa kebijakan ini bukan sekadar efisiensi biaya, melainkan perubahan struktur bisnis yang lebih luas dengan mengintegrasikan otomatisasi berbasis AI ke dalam operasional perusahaan.

“Ini bukan pemotongan biaya. Ini adalah mengganti modal manusia yang bernilai lebih rendah dalam beberapa kasus dengan modal investasi yang kami tanamkan,” ujar Winters.

Ia juga memastikan bahwa sebagian karyawan akan mengikuti program pelatihan ulang (reskilling) agar dapat beradaptasi dengan kebutuhan baru di industri perbankan digital.

Dampak terbesar dari kebijakan ini diperkirakan terjadi pada unit back-office yang tersebar di sejumlah negara, termasuk India, Malaysia, dan Polandia. Unit tersebut selama ini menjadi tulang punggung operasional administratif bank.

Di sisi lain, Standard Chartered tetap mencatat kinerja keuangan yang stabil berkat fokus pada segmen nasabah kaya (affluent) serta layanan perbankan korporasi dan investasi. Perusahaan bahkan mengklaim telah mencapai target keuangan jangka menengah tahun 2026 lebih cepat dari rencana.

Meski demikian, tantangan geopolitik global dan tekanan ekonomi internasional masih menjadi risiko yang harus dihadapi, termasuk potensi dampak konflik di Timur Tengah terhadap stabilitas pasar dan biaya operasional.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments