SBCNews.id – Inovasi pengolahan tambak garam di Pulau Madura membuka peluang baru bagi petani pesisir. Melalui model terpadu, satu siklus produksi tambak kini tidak hanya menghasilkan garam, tetapi juga rumput laut, air minum bersih, hingga energi baru terbarukan (EBT).
Proyek percontohan ini dikembangkan di Desa Lembung, Pulau Madura, dengan melibatkan peneliti dari Universitas Trunojoyo Madura. Model tersebut dinilai mampu mendiversifikasi sumber pendapatan petani yang selama ini bergantung pada hasil panen garam semata.Peneliti yang terlibat, Wahyudi Agustiono, menjelaskan bahwa proses dimulai dengan menampung air laut di kolam yang ditanami rumput laut. Tanaman ini berfungsi sebagai penyaring alami yang menyerap lumpur dan logam berat, sekaligus menjadi komoditas bernilai ekonomi.
“Dengan penanaman rumput laut, air untuk proses pembuatan garam menjadi lebih jernih, sehingga kontaminasi seperti besi dan magnesium dapat berkurang,” ujar Wahyudi, Selasa (28/4/2026).
Setelah melalui penyaringan alami, air laut diproses menggunakan teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) untuk menghasilkan air bersih yang layak minum. Sementara itu, air dengan kadar garam tinggi dimanfaatkan untuk mempercepat proses kristalisasi, sehingga waktu panen menjadi lebih singkat.Menariknya, sistem ini juga memanfaatkan perbedaan suhu di kolam untuk menghasilkan energi gerak yang dikonversi menjadi listrik dan dipadukan dengan panel surya. Dengan demikian, operasional tambak tidak lagi bergantung pada pasokan listrik dari luar.
Pada lahan seluas 6 hektare, produktivitas garam mencapai sekitar 100 ton per hektare per siklus, meningkat hingga dua kali lipat dibanding metode konvensional. Selain itu, tambak mampu menghasilkan sekitar 2 ton rumput laut per hektare, air minum hingga 1.000 liter setiap delapan jam, serta listrik berkapasitas 1–6 kilowatt.Keunggulan lain dari model ini adalah kemampuannya tetap berproduksi saat musim hujan. Air berkadar garam tinggi dapat dimanfaatkan dalam sistem tertutup, sehingga proses penguapan tetap berlangsung meski sinar matahari terbatas.
Wahyudi menilai, diversifikasi hasil ini berpotensi meningkatkan kesejahteraan petani pesisir. Bahkan, air minum hasil produksi tambak dapat menjadi sumber pendapatan tambahan. “Jika dijual Rp1.000 per liter, potensi pendapatan bisa mencapai puluhan juta rupiah per bulan,” katanya.Meski demikian, ia mengakui teknologi tersebut masih berskala terbatas dan memerlukan dukungan pemerintah serta sektor swasta agar dapat dikembangkan lebih luas.



