HomeUmumLady Companion Turun Menanam Pohon, Aksi Bumi di Situbondo Jadi Sorotan

Lady Companion Turun Menanam Pohon, Aksi Bumi di Situbondo Jadi Sorotan

SBCNews.id— Sebuah pemandangan tak biasa terjadi dalam peringatan Hari Bumi tahun ini di Situbondo. Di tengah gerakan besar penanaman 20 ribu pohon untuk mencegah bencana, pemerintah daerah justru menghadirkan pendekatan yang berbeda—merangkul semua lapisan masyarakat tanpa terkecuali, termasuk komunitas yang selama ini kerap dipandang sebelah mata.

Dipimpin langsung oleh Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo atau yang akrab disapa Mas Rio, aksi penanaman pohon ini digelar di berbagai titik rawan bencana seperti Kecamatan Kendit, Mlandingan, Bungatan, Besuki, hingga kawasan Jatibanteng. Namun bukan sekadar jumlah pohon yang menjadi perhatian, melainkan siapa saja yang dilibatkan dalam gerakan ini.

Di antara relawan yang ikut menanam pohon, tampak kehadiran komunitas Lady Companion (LC)—sebuah kelompok yang selama ini lebih sering diasosiasikan dengan kehidupan malam. Kehadiran mereka di tengah aksi pelestarian lingkungan ini sontak mengundang perhatian sekaligus rasa penasaran publik.

Mas Rio menegaskan bahwa gerakan menanam pohon bukanlah kegiatan eksklusif yang hanya melibatkan kalangan tertentu. Baginya, menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama yang harus melibatkan semua elemen masyarakat.

“Gerakan ini adalah gerakan sosial. Artinya terbuka untuk siapa pun yang ingin berkontribusi merawat bumi,” ujarnya.

Ia juga menyoroti kondisi Situbondo yang beberapa kali dilanda banjir. Menurutnya, salah satu penyebab utama adalah berkurangnya tutupan hutan akibat penebangan yang tidak terkendali. Karena itu, penanaman pohon menjadi langkah konkret untuk memperbaiki kondisi lingkungan sekaligus mengurangi risiko bencana di masa depan.

Dalam waktu kurang dari satu bulan, pemerintah daerah bersama berbagai pihak berhasil menghimpun sekitar 20 ribu bibit pohon. Bibit tersebut kemudian ditanam di lokasi-lokasi yang dinilai rawan, sebagai upaya membangun benteng alami terhadap ancaman banjir.

Namun yang membuat gerakan ini terasa berbeda adalah pendekatan inklusif yang diusung. Bagi Mas Rio, melibatkan komunitas LC bukan sekadar simbol, melainkan pesan kuat bahwa setiap orang memiliki hak yang sama untuk berbuat baik.

“Kita ingin ini jadi gerakan bersama. Teman-teman LC juga manusia yang harus dihargai dan punya kesempatan yang sama untuk berkontribusi, apalagi ini aksi positif,” tegasnya.

Kehadiran komunitas LC pun bukan tanpa makna. Yanti, salah satu perwakilan mereka, mengungkapkan rasa terima kasih atas kesempatan yang diberikan. Ia menegaskan bahwa keterlibatan mereka adalah bentuk kepedulian nyata terhadap lingkungan.

“Kami ingin menunjukkan bahwa kami juga peduli. LC bukan hanya tentang dunia malam, tapi juga bisa berkontribusi menjaga bumi,” ujarnya.

Pernyataan tersebut seolah mematahkan stigma yang selama ini melekat. Di tengah tanah yang digali dan bibit yang ditanam, tersirat pesan bahwa perubahan tidak hanya terjadi pada lingkungan, tetapi juga pada cara pandang masyarakat.

Lebih dari sekadar kegiatan seremonial, aksi ini menjadi simbol gerakan sosial yang lebih luas—tentang kesadaran ekologis, kebersamaan, dan penerimaan. Pemerintah Kabupaten Situbondo berharap, langkah ini dapat menjadi awal dari gerakan berkelanjutan yang terus hidup di tengah masyarakat, bahkan tanpa dorongan kebijakan sekalipun.

Kini, di antara ribuan pohon yang ditanam, tersimpan harapan besar: bahwa alam akan kembali pulih, bencana dapat ditekan, dan masyarakat semakin sadar bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama—tanpa batas, tanpa stigma, dan tanpa pengecualian.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments