HomeKesehatanKetika Harga Naik dan Pangan Terbatas: Bisakah Zero Hunger Tercapai?

Ketika Harga Naik dan Pangan Terbatas: Bisakah Zero Hunger Tercapai?

Oleh : dr. Fara Disa Durry, M.Kes., M.Biomed, M.MB

Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang tidak dapat ditunda. Namun, di tengah dinamika ekonomi global, perubahan iklim, pertumbuhan penduduk, hingga ketidakstabilan rantai pasok, tantangan dalam memenuhi kebutuhan pangan masyarakat semakin kompleks. Kenaikan harga bahan pokok yang terus terjadi dalam beberapa tahun terakhir menjadi perhatian serius, terutama bagi kelompok masyarakat rentan dengan daya beli terbatas. Pertanyaan besar pun muncul: di tengah harga yang terus meningkat dan keterbatasan akses pangan, mungkinkah target Zero Hunger atau tanpa kelaparan benar-benar tercapai?

Konsep Zero Hunger merupakan bagian dari Sustainable Development Goals (SDGs), tepatnya SDG 2: Zero Hunger, yang bertujuan mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan, memperbaiki nutrisi, dan mendorong pertanian berkelanjutan pada tahun 2030. Target ini tidak hanya berbicara tentang ketersediaan makanan, tetapi juga memastikan bahwa setiap individu memiliki akses terhadap pangan yang cukup, aman, bergizi, dan terjangkau. Sayangnya, realitas di lapangan menunjukkan bahwa perjalanan menuju target tersebut masih menghadapi banyak hambatan.

Kenaikan harga pangan menjadi salah satu tantangan terbesar. Harga beras, minyak goreng, telur, daging, cabai, dan bahan pokok lainnya yang fluktuatif sering kali memengaruhi kemampuan rumah tangga dalam memenuhi kebutuhan gizi sehari-hari. Ketika harga meningkat, masyarakat dengan penghasilan rendah terpaksa melakukan penyesuaian, mulai dari mengurangi jumlah makanan, menurunkan kualitas konsumsi, hingga mengganti makanan bergizi dengan pilihan yang lebih murah tetapi kurang bernutrisi. Kondisi ini tentu berisiko memperburuk masalah malnutrisi, stunting pada anak, anemia, hingga berbagai masalah kesehatan lain yang berkaitan dengan kurangnya asupan gizi seimbang.

Selain faktor ekonomi, tantangan ketahanan pangan juga dipengaruhi oleh perubahan iklim dan gangguan produksi pangan. Cuaca ekstrem, musim yang tidak menentu, kekeringan, banjir, serta gangguan ekosistem pertanian dapat mengurangi hasil panen dan memengaruhi stabilitas pasokan pangan. Ketika produksi menurun sementara permintaan meningkat, harga menjadi sulit dikendalikan. Situasi ini menunjukkan bahwa persoalan pangan tidak dapat dipandang semata-mata sebagai isu pertanian, tetapi juga terkait erat dengan kesehatan masyarakat, lingkungan, ekonomi, dan kebijakan publik.

Di tingkat rumah tangga, ketahanan pangan tidak hanya ditentukan oleh jumlah pangan yang tersedia, tetapi juga oleh kemampuan keluarga untuk mengakses makanan bergizi secara konsisten. Banyak keluarga yang masih menghadapi dilema antara memenuhi kebutuhan pangan dan kebutuhan hidup lainnya seperti pendidikan, transportasi, maupun kesehatan. Pada kondisi tertentu, masyarakat mungkin masih dapat makan tiga kali sehari, tetapi kualitas nutrisi yang dikonsumsi belum tentu mencukupi kebutuhan tubuh. Oleh karena itu, isu kelaparan saat ini tidak selalu terlihat dalam bentuk kekurangan makanan secara ekstrem, melainkan juga dalam bentuk hidden hunger atau kelaparan tersembunyi akibat kekurangan zat gizi penting.

Namun demikian, harapan untuk mencapai Zero Hunger bukan sesuatu yang mustahil. Diperlukan langkah bersama dari berbagai sektor untuk memperkuat ketahanan pangan nasional dan lokal. Pemerintah memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas harga, memperkuat cadangan pangan, mendukung petani lokal, serta memastikan distribusi pangan berjalan secara merata. Di sisi lain, inovasi di bidang pertanian seperti pertanian berbasis teknologi, urban farming, diversifikasi pangan lokal, hingga peningkatan efisiensi rantai distribusi juga dapat menjadi solusi dalam menghadapi tantangan ketersediaan pangan.

Masyarakat juga memiliki peran besar dalam mendukung ketahanan pangan, misalnya dengan mengurangi pemborosan makanan (food waste), memanfaatkan pangan lokal, hingga meningkatkan kesadaran terhadap pola makan sehat dan bergizi seimbang. Ketahanan pangan sejatinya tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau sektor pertanian semata, tetapi merupakan tanggung jawab bersama yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.

Selain terkait dengan SDG 2: Zero Hunger, isu pangan juga berkaitan erat dengan SDG 3: Good Health and Well-Being karena akses terhadap pangan bergizi menentukan kualitas kesehatan masyarakat, serta SDG 1: No Poverty mengingat kemiskinan menjadi salah satu akar utama keterbatasan akses pangan. Dengan kata lain, keberhasilan mencapai Zero Hunger tidak hanya berarti menghilangkan rasa lapar, tetapi juga menciptakan masyarakat yang lebih sehat, produktif, dan sejahtera.

Pada akhirnya, pertanyaan “bisakah Zero Hunger tercapai?” mungkin belum memiliki jawaban pasti. Tantangannya besar, mulai dari harga pangan yang terus meningkat, keterbatasan akses, hingga ancaman perubahan iklim. Namun satu hal yang jelas, target tersebut hanya dapat diwujudkan apabila ada komitmen bersama untuk memastikan bahwa tidak ada seorang pun yang tertinggal dalam mendapatkan akses terhadap pangan yang layak. Karena pada dasarnya, pangan bukan sekadar kebutuhan melainkan fondasi utama bagi kehidupan, kesehatan, dan masa depan bangsa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here