SBCNews.id – Pasar keuangan dalam negeri tengah diguncang sentimen negatif global. Nilai tukar rupiah dilaporkan terus melemah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) hingga menembus angka psikologis baru, yakni Rp17.300 per dollar AS. Angka ini mencatatkan rekor sebagai level terendah mata uang Garuda sepanjang sejarah.
Anjloknya nilai tukar ini memicu kekhawatiran pelaku pasar dan masyarakat luas. Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI), Juli Budi Winantya, mengungkapkan bahwa faktor utama di balik pelemahan ini adalah eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
“Pelemahan rupiah dipengaruhi oleh dampak konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran,” ujar Juli dalam keterangannya, Sabtu (25/4/2026).
Konflik yang kian memanas di kawasan tersebut tidak hanya menciptakan ketidakpastian keamanan, tetapi juga memberikan efek domino terhadap stabilitas ekonomi global. Juli menjelaskan bahwa situasi ini memicu kekhawatiran akan perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia secara menyeluruh.
Sebagai dampak langsung, proyeksi pertumbuhan ekonomi global untuk tahun 2026 kini telah dipangkas, dari semula diperkirakan sebesar 3,1 persen menjadi hanya 3,0 persen.
Kondisi “wait and see” dari para investor global yang cenderung menarik modalnya ke aset-aset aman (safe haven) seperti dollar AS semakin menekan posisi mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
Hingga berita ini diturunkan, Bank Indonesia terus memantau pergerakan pasar dan menyiapkan serangkaian strategi intervensi untuk menstabilkan kurs guna mencegah dampak yang lebih dalam terhadap inflasi dan daya beli masyarakat di dalam negeri.
