SBCNews.id – PT Aneka Tambang Tbk (Antam) terus memperkuat komitmennya terhadap pengelolaan lingkungan berkelanjutan dengan mengembangkan narseri dan taman keanekaragaman hayati (kehati) di Unit Bisnis Pertambangan Emas (UBPE) Pongkor, Jawa Barat. Program ini tak hanya berfokus pada rehabilitasi lingkungan, tetapi juga memberdayakan masyarakat di sekitar wilayah tambang.
Sebagai bagian dari holding pertambangan MIND ID, Antam menginisiasi pembibitan tanaman lokal dan endemik yang digunakan untuk mendukung kegiatan reklamasi dan revegetasi, baik di area operasional maupun di lingkungan masyarakat.
Perwakilan perusahaan, Agustinus Toko Susetio, menjelaskan bahwa narseri menjadi pusat pengembangan bibit tanaman khas daerah yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
“Pembibitan tanaman lokal dan endemik kami lakukan untuk mendukung reklamasi serta kebutuhan masyarakat sekitar,” ujarnya.
Selain penyediaan bibit, Antam juga aktif memberikan edukasi kepada warga terkait pentingnya pelestarian lingkungan dan konservasi keanekaragaman hayati. Program ini diarahkan untuk memperkuat kesadaran sekaligus kapasitas masyarakat dalam mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan.
Dalam pelaksanaannya, Antam menggandeng sejumlah mitra, termasuk Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak dan kelompok masyarakat seperti Modal Kampung Konservasi (MKK) Cisangku di Desa Malasari.
Ketua Kelompok Tani Hutan MKK Cisangku, Hendrik, menyebut kerja sama dengan Antam sejak 2022 membawa dampak signifikan, terutama dalam membuka akses pasar dan memperluas jejaring usaha. Selain konservasi, kelompoknya kini juga mengembangkan sektor ekonomi seperti penjualan kopi, wisata, hingga bibit tanaman.
Dampak serupa dirasakan Kelompok Tani Taruna Muda Garitan. Ketua kelompok, Wahyudin, mengungkapkan pendampingan dari Antam mendorong pengembangan pertanian hortikultura, seperti cabai dan tomat. Dalam dua tahun, lahan garapan mereka berkembang pesat dari 1.000 meter persegi menjadi sekitar 3 hektare, dengan jumlah anggota meningkat dari enam menjadi 25 orang.
Program ini dinilai tidak hanya memperbaiki kualitas lingkungan dan mengurangi risiko erosi, tetapi juga membuka peluang kerja baru dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Kolaborasi antara Antam dan warga sekitar tambang menjadi contoh bahwa pengelolaan lingkungan dapat berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi lokal. Melalui pendekatan kemitraan berkelanjutan, perusahaan menargetkan terciptanya ekosistem yang lebih lestari sekaligus masyarakat yang mandiri secara ekonomi.
