SBCNews.id — Cara menikmati senja kini tak lagi sekadar memandangi langit dari kejauhan. Di Banyuwangi, tepatnya di sebuah sudut desa di Kecamatan Glenmore, pengalaman sederhana justru menjadi daya tarik baru yang memikat banyak orang. Duduk santai di tepi sungai, menyeruput kopi hangat, dan menikmati suasana alam yang tenang kini menjelma menjadi tren wisata yang kian digandrungi.
Fenomena ini bisa ditemui di Wisata Pesona Senja atau Sunset Point yang berada di Dusun Salamrejo, Desa Sumbergondo. Di tempat ini, senja bukan hanya tentang perubahan warna langit menjadi jingga, tetapi tentang bagaimana pengunjung merasakan ketenangan yang sulit ditemukan di tengah hiruk pikuk kehidupan modern. Angin sore yang berembus lembut berpadu dengan suara gemercik air sungai menciptakan suasana damai yang seolah memperlambat waktu.
Keindahan alam yang ditawarkan pun terasa lengkap. Hamparan sawah hijau membentang luas, berpadu dengan latar megah Gunung Raung di kejauhan. Sesekali, kereta api melintas tak jauh dari lokasi, menghadirkan nuansa unik yang jarang ditemui di destinasi wisata lain. Semua elemen tersebut menyatu, menciptakan lanskap yang bukan hanya memanjakan mata, tetapi juga menenangkan jiwa.
Tak hanya menawarkan ketenangan, Pesona Senja juga menghadirkan sensasi petualangan. Pengunjung dapat mencoba tubing menyusuri aliran sungai yang jernih, memberikan pengalaman berbeda di tengah suasana alam yang damai. Perpaduan antara relaksasi dan aktivitas ini menjadi salah satu alasan mengapa destinasi ini cepat populer.
Antusiasme wisatawan pun terus meningkat. Pengunjung dari berbagai daerah mulai berdatangan untuk merasakan langsung pengalaman ini. Salah satunya Dewi Fatmawati, wisatawan asal Jember, yang mengaku terkesan dengan suasana alami yang ditawarkan. Ia menyebut pengalaman tubing di lokasi tersebut sangat menyenangkan, dengan kondisi sungai yang bersih dan suasana yang cocok untuk liburan bersama keluarga.
Di balik kesuksesan Pesona Senja, terdapat peran besar masyarakat desa yang mengelola destinasi ini secara gotong royong. Sejak dikembangkan sekitar tiga tahun lalu, kawasan ini terus mengalami pertumbuhan signifikan. Bahkan pada akhir pekan, jumlah pengunjung bisa mencapai lebih dari 500 orang per hari.
Dampak ekonomi pun mulai terasa. Sekitar 20 pelaku UMKM turut meramaikan kawasan wisata ini dengan menjajakan berbagai kuliner lokal, mulai dari makanan ringan hingga kopi khas Glenmore yang semakin dikenal. Pada hari libur, omzet masing-masing pelaku usaha bahkan bisa mencapai Rp1 juta per hari, menunjukkan bagaimana sektor pariwisata mampu menggerakkan ekonomi desa secara nyata.
Apresiasi juga datang dari Ipuk Fiestiandani yang menilai inisiatif warga dalam mengembangkan wisata berbasis alam dan komunitas sebagai langkah positif. Menurutnya, kreativitas tersebut tidak hanya memperkaya pilihan destinasi wisata, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi lokal. Ia pun mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan serta kualitas produk agar pengalaman wisata tetap berkesan.
Untuk semakin menarik minat pengunjung, pemerintah desa rutin menggelar berbagai kegiatan, salah satunya event “Ngopi Pinggir Kali dan Tubing” yang sukses menciptakan suasana khas dan berbeda. Dalam konsep sederhana lesehan di tepi sungai, pengunjung dapat menikmati kuliner sambil menunggu matahari terbenam—momen yang justru menjadi daya tarik utama.
Kepala Desa Sumbergondo, Taufik Hidayat, menegaskan komitmen pihaknya dalam menjaga kelestarian lingkungan. Edukasi kepada pengunjung untuk tidak membuang sampah ke sungai terus dilakukan sebagai upaya menjaga keindahan alam yang menjadi aset utama wisata ini.
Di tengah maraknya wisata modern yang serba cepat dan penuh atraksi, Pesona Senja di Glenmore justru menawarkan sesuatu yang berbeda: ketenangan, kesederhanaan, dan kehangatan suasana. Dari tepi sungai ini, senja tak hanya terlihat indah, tetapi juga terasa lebih dekat—meninggalkan kesan mendalam yang membuat siapa pun ingin kembali menikmatinya.



