SBCNews.id – Ketegangan geopolitik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel mulai memberikan efek domino ke pasar domestik Indonesia. Sektor industri kemasan kini berada di bawah bayang-bayang lonjakan harga plastik akibat tersendatnya rantai pasok global.
Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag), Dyah Roro Esti, menyoroti urgensi kerja sama antarinstansi pemerintah untuk meredam dampak kenaikan harga ini. Menurutnya, masalah ini tidak bisa hanya diselesaikan oleh satu pihak.
“Secara keseluruhan tentunya dibutuhkan sinergitas lintas kementerian, baik itu kami di Kemendag maupun kementerian lainnya, untuk mencarikan solusi terbaiknya,” ujar Wamendag Roro di Jakarta, Rabu (22/4).
Akar masalahnya terletak pada bahan baku utama plastik, yakni biji plastik berupa nafta, yang mayoritas pasokannya bergantung pada kawasan Timur Tengah. Akibat konflik yang memanas, jalur pengapalan internasional menjadi lebih panjang dan berisiko, yang memicu kenaikan ongkos logistik secara signifikan.
Tak hanya itu, Roro menambahkan bahwa saat ini tengah terjadi kompetisi sengit antarnegara untuk memperebutkan pasokan bahan baku tersebut. Kondisi pasokan yang terbatas sementara permintaan tetap tinggi membuat harga di tingkat global terus merangkak naik.
Kenaikan harga kemasan plastik ini dikhawatirkan akan berdampak pada harga jual produk jadi di masyarakat, terutama pada industri makanan dan minuman (mamin) yang sangat bergantung pada bahan plastik. Kemendag kini tengah mengkaji berbagai opsi kebijakan guna menjaga stabilitas harga dan memastikan keberlangsungan industri manufaktur dalam negeri di tengah ketidakpastian global.



