SBCNews.id- Rasa bingung dan kesepian pernah menyelimuti Wartini saat mendampingi anaknya yang berkebutuhan khusus tanpa dukungan komunitas. Ia mengaku sempat merasa tidak percaya diri dan kehilangan arah dalam menghadapi kondisi tersebut.
“Awalnya saya itu tidak punya komunitas apa pun. Saya merasa sendiri, tidak percaya diri, dan tidak tahu mau ngapain,” ujar Wartini, Senin (20/4/2026).
Kesulitan juga dirasakan Wartini dalam mencari informasi terkait penanganan anaknya, termasuk akses terapi yang tepat. Ia bahkan tidak mengetahui harus membawa anaknya ke mana untuk mendapatkan bantuan profesional.“Tidak tahu harus membawa anak ini ke mana.
Mau terapi ke mana juga tidak tahu,” katanya.Berangkat dari kondisi tersebut, Wartini akhirnya mengambil inisiatif untuk membangun wadah bagi para orang tua dengan kondisi serupa. Ia mengajak sejumlah orang tua lain untuk berkumpul dan saling berbagi pengalaman.
“Waktu itu langsung saja, ayo kita bentuk komunitas,” ujarnya.Upaya tersebut mulai diwujudkan pada November 2022,
ketika Wartini bersama beberapa orang tua anak berkebutuhan khusus mulai mengumpulkan anggota dan membentuk komunitas sebagai ruang dukungan bersama.
