Pagi itu, Sabtu 14 Februari 2026 suasana di kawasan Mulyosari, Surabaya, terasa lebih hidup dari biasanya. Balon, bunga, dan wajah-wajah antusias memenuhi sebuah bangunan yang baru saja resmi dibuka. Namun pembukaan cabang ke-7 DNY Skincare bukan hanya tentang perawatan kulit atau tren kecantikan. Ada cerita yang lebih dalam—tentang empati, tentang keluarga, dan tentang harapan yang ingin dibagikan kepada lebih banyak orang.
Di balik berdirinya klinik ini, ada pengalaman pribadi yang mengubah cara pandang sang founder, Denny Rachmawati, terhadap makna sebuah usaha. Ia tidak memulai klinik hanya untuk bisnis. Ada dorongan yang jauh lebih personal: keinginan membantu anak-anak disabilitas menemukan tempatnya di dunia kerja.
Ia memahami betul kegelisahan orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus—kegelisahan yang juga pernah ia rasakan sendiri. “Karena kami punya anak berkebutuhan khusus, kami merasa memang harus melakukan ini untuk anak-anak disabilitas. Kami mencoba membantu mereka mendapatkan peluang kerja,” ungkap Denny saat didapuk memberikan sambutan.
Di klinik-klinik DNY, termasuk cabang Mulyosari, beberapa penyandang disabilitas telah dilibatkan dalam pekerjaan sehari-hari. Ada yang membantu proses pengemasan produk, ada yang terlibat dalam aktivitas marketplace, pekerjaan-pekerjaan sederhana namun bermakna. Saat ini, jumlahnya telah mencapai belasan orang.
Pekerjaan itu mungkin terlihat remeh bagi sebagian orang. Tetapi bagi mereka, itu adalah pintu menuju kemandirian—sesuatu yang sering kali sulit didapatkan.

Denny memiliki harapan yang sederhana, tetapi kuat: agar anak-anak disabilitas tidak hanya bergantung pada bantuan, melainkan mampu berdiri di atas kaki sendiri.
“Saya tidak ingin melihat anak-anak disabilitas membawa map untuk meminta sumbangan. Saya ingin mereka berkarya dan mandiri,” tekadnya.
Di ruang klinik yang bersih dan terang, orang-orang datang dengan berbagai alasan. Ada yang ingin mengatasi jerawat, ada yang ingin kulitnya lebih sehat, ada pula yang sekadar ingin merawat diri setelah hari-hari yang melelahkan. Namun tanpa banyak disadari, setiap produk yang dibeli dan setiap perawatan yang dilakukan ikut menjadi bagian dari rantai kebaikan yang lebih besar. “Kalian datang membeli produk juga perawatan di sini berarti kalian sudah ikut menyumbang, mensukseskan kami untuk membantu anak-anak disabilitas,” tegas perempuan berhijab ini.
Cantik itu Bukan Instan
Di sisi lain, klinik ini tetap berdiri sebagai fasilitas kesehatan kulit yang profesional. Konsultasi dokter diberikan secara gratis agar pasien memahami kondisi kulitnya sebelum memilih produk atau treatment. Pendekatan ini penting agar perawatan tidak sekadar mengikuti tren, melainkan benar-benar sesuai kebutuhan.
Dokter klinik, dr. Almaarif Faiq Rizky, melihat banyak orang masih menganggap perawatan kulit sebagai sesuatu yang instan, padahal kenyataannya tidak demikian.
“Basic skin care itu penting. Percuma kalau treatment macam-macam tapi perawatan hariannya tidak dilakukan,” ucap dr Almaarif.
Menjelang bulan puasa, perhatian terhadap kesehatan kulit justru menjadi semakin penting. Perubahan pola makan, berkurangnya asupan cairan, hingga aktivitas di bawah matahari dapat memengaruhi kondisi kulit.
Menurut dr. Almaarif, langkah sederhana seperti membersihkan wajah dengan benar, menggunakan pelembap, serta sunscreen tetap perlu dilakukan secara konsisten. “Cantik itu bukan hal yang instan. Kita harus berusaha pelan-pelan, konsisten, baru hasilnya maksimal,” katanya.
Nasihat itu terdengar sederhana, tetapi relevan—bukan hanya untuk merawat kulit, melainkan juga untuk membangun sesuatu yang bermakna. Klinik DNY Mulyosari berdiri bukan dalam semalam. Ia tumbuh dari perjalanan panjang, dari pengalaman pribadi, dan dari keyakinan bahwa usaha seharusnya membawa manfaat bagi lebih banyak orang.
Di sudut ruangan, tawa pelan terdengar dari beberapa karyawan yang tengah merapikan produk. Sebagian dari mereka mungkin dulu dipandang sebelah mata, dianggap tidak mampu, atau kesulitan menemukan tempat di dunia kerja. Kini, mereka menjadi bagian dari sebuah cerita yang lebih besar.
Sebuah klinik boleh saja dikenal karena hasil perawatannya. Tetapi ada kalanya, sebuah tempat dikenang justru karena nilai yang dihidupkannya. Dan di Mulyosari, sebuah klinik baru saja membuka pintunya—bukan hanya untuk orang yang ingin merawat kulit, tetapi juga untuk harapan yang ingin terus tumbuh. Tak hanya bagi disabilitas, untuk para dhuafa juga dibagikan sembako gratis sebagai wujud rasa syukur dibukanya cabang klinik baru ini.
