SBCNews.id — Masalah penyakit jantung bawaan pada anak kembali menjadi sorotan serius di Indonesia. Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono, mengungkap fakta mengejutkan bahwa dari sekitar 50 ribu anak yang terdeteksi mengalami kelainan jantung sejak lahir, baru sekitar 5 ribu anak saja yang mendapatkan penanganan medis layak. Angka ini menunjukkan masih besarnya kesenjangan antara kebutuhan layanan kesehatan dan kapasitas penanganan di tanah air.
Menurut Dante, kelainan jantung bawaan pada anak masih menjadi tantangan besar karena rasio kejadian sekitar 8 dari 1.000 kelahiran, yang berarti setiap tahunnya ribuan keluarga harus menghadapi realitas penyakit berat sejak dini. Namun sayangnya, kemampuan fasilitas kesehatan dan ketersediaan layanan operasi jantung masih tertinggal jauh dibanding kebutuhan nyata di lapangan.
Salah satu faktor utama yang menghambat penanganan adalah antrean operasi yang panjang serta biaya yang tidak murah. Rata-rata biaya operasi jantung dapat mencapai sekitar Rp 100 juta, sementara program BPJS Kesehatan hanya mampu menanggung sekitar Rp 30 juta dari total biaya tersebut. Kekurangan pembiayaan menjadi beban tambahan bagi keluarga pasien dan fasilitas kesehatan.
Dante menyatakan bahwa pemerintah terus menjalin kerja sama dengan berbagai pihak — termasuk yayasan sosial dan organisasi internasional — untuk memperluas layanan penanganan dan mengurangi beban biaya melalui subsidi tambahan. Ia juga menyebut pihaknya akan terus melakukan advokasi agar skema pembiayaan kesehatan nasional dapat mengakomodasi kebutuhan penanganan penyakit dengan biaya tinggi seperti kelainan jantung bawaan.
Para ahli kesehatan menilai bahwa angka kelahiran dengan risiko jantung bawaan yang tinggi perlu diimbangi dengan strategi deteksi dini, penguatan jumlah tenaga spesialis anak khusus penyakit jantung, serta pemerataan akses layanan medis ke seluruh daerah di Indonesia. Program skrining sejak usia dini dan peningkatan kemampuan tenaga medis menjadi kunci untuk mencegah komplikasi jangka panjang.
Dengan tantangan yang masih besar ini, kebutuhan untuk meningkatkan kesadaran publik sekaligus kapasitas layanan kesehatan anak menjadi agenda penting dalam upaya menyelamatkan masa depan generasi muda Indonesia.
Sumber:Detik.com
