HomeUmumKetika Tawa itu Kembali Pulang ke Surabaya

Ketika Tawa itu Kembali Pulang ke Surabaya

SBCNews.id-Sabtu malam, 27 Desember, Balai Budaya di kompleks Balai Pemuda Surabaya dipenuhi suara yang lama dirindukan: tawa. Bukan tawa yang lahir dari layar gawai, melainkan tawa yang muncul dari tubuh-tubuh yang saling berhadapan—dari celetukan spontan, jeda yang tepat, dan kelucuan yang tumbuh dari keseharian. Malam itu, Srimulat kembali naik panggung.

Pertunjukan ini digelar oleh Pemerintah Kota Surabaya sebagai bagian dari agenda kebudayaan akhir tahun. Namun bagi para pelakunya, pentas tersebut jauh melampaui fungsi hiburan. Ia adalah penanda bahwa seni panggung rakyat yang sempat tercerabut dari ruang hidupnya, masih punya kesempatan untuk berdiri kembali.

Di atas panggung, para pemain menghadirkan komedi dengan cara yang nyaris tak berubah sejak puluhan tahun lalu: improvisasi, permainan tubuh, dan dialog yang hidup dari respons penonton. Tessy, salah satu ikon Srimulat yang kini tinggal di Jakarta, mengaku haru bisa kembali tampil di Surabaya setelah waktu yang begitu panjang. “Kangen saya! Sejak tahun 97 sampai sekarang, baru kali ini bisa kumpul lagi. Rasanya enggak bisa diungkapkan,” ungkap Tessy saat ditemui usai pentas di balik panggung.

Sembari menghapus riasan wajahnya, Tessy menyebut pentas ini bukan sekedar reuni, tetapi juga harapan. Harapan agar Srimulat—meski dengan formasi yang tersisa—bisa kembali menyatu dan menemukan jalannya di tengah perubahan zaman. “Yang penting semangat, mudah-mudahan bisa berlanjut,” harap peghibur dengan nama asli Kabul ini.

Hal serupa disampaikan Kadir, pemain senior yang hampir dua puluh tahun tak mentas di Surabaya. Ia datang sebagai bintang tamu, tanpa banyak pertanyaan. “Saya diundang, ya datang,” kata Kadir santai. Namun di balik nada bercandanya, terselip kerinduan yang sama: rindu pada panggung yang pernah membesarkannya. Kadirpun berharap panggung untuk Srimulat bisa rutin digelar di Surabaya. Selain untuk memberi kesempatan generasi muda melanjutkan dunia seni panggung, juga agar senior tetap bisa manggung sekedar demi menyambung hidup. “Yaa biar saya sering-sering diundang seperti mala mini,” tukasnya tetap dengan gaya bercanda.

Sementara itu, sang sutradara pertunjukan, Eko Kucing, menyadari betul bahwa malam itu bukan sekadar acara tunggal. Persiapan memang singkat—sekitar dua minggu—tetapi latar belakangnya panjang. Sejak Taman Hiburan Rakyat (THR) Surabaya ditutup dan pandemi melanda, panggung Srimulat praktis menghilang. “Dulu rutin sebulan sekali. Setelah THR tutup dan Covid, semuanya berhenti. Lama sekali enggak ada panggilan,” aku Eko yang malam itu masih mengenakan kostum lengkap dengan dandanan khas.

Para seniman pun menyebar. Mencari jalan hidup masing-masing. Ada yang bertahan di dunia hiburan, ada yang sepenuhnya berpindah profesi. Namun satu hal, kata Eko, tidak pernah benar-benar hilang: semangat untuk tetap menjaga seni. Di antara mereka, ada satu nama yang kisahnya menggambarkan pergulatan itu secara paling telanjang.

Cak Silo: Bertahan Setelah Lampu Panggung Padam

Bagi Cak Silo, Srimulat bukan sekadar pekerjaan. Ia adalah ritme hidup. Bertahun-tahun ia hidup dari panggung ke panggung—pentas Srimulat, acara off-air, hingga tayangan televisi lokal di Surabaya. Dunia itu runtuh perlahan, lalu tiba-tiba.

Sekitar lima tahun lalu, THR ditutup. Tak lama kemudian pandemi datang. Televisi lokal berhenti produksi. Panggung-panggung menghilang. “Waktu itu semua off. Enggak ada panggung, enggak ada TV,” jelas Silo dengan mata menerawang kisah pahit dalam kehidupannya.

Tak ada drama dalam nada suaranya ketika bercerita. Yang ada adalah kejujuran orang yang sudah menerima kenyataan. Bertahan hidup menjadi urusan paling mendasar. Silo memilih berjualan pentol. Setiap hari ia berkeliling dengan motor tua menjajakan pentol buatannya keliling Jombang.

Ia tak mengeluh. “Yang penting hidup jalan,” tegasnya di balik panggung Balai Budaya Surabaya. Namun di balik kesederhanaan itu, ada sesuatu yang ia simpan rapat-rapat: kerinduan pada panggung. Pada tepuk tangan. Pada pertemuan langsung dengan penonton.

Di tengah situasi itu, beberapa tahun lalu anaknya mengajukan usul yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya: membuat konten YouTube. “Saya ini gaptek,” ucapnya sambil tersenyum. “Enggak ngerti kamera, enggak ngerti video apa-apa.”

Namun ia mengikuti. Anaknya membantu merekam. Silo tampil apa adanya: sebagai penjual pentol yang tetap melucu, tetap berceloteh, tetap membawa jiwa Srimulat ke ruang paling sederhana—trotoar dan layar ponsel.

Konten itu tidak dibuat dengan ambisi besar. Tidak ada strategi viral. Tidak ada target penonton. “Viral itu enggak bisa dikejar. Kalau rezeki ya datang sendiri. Tujuan saya dari awal cuma satu: menghibur,” tutur Silo.

YouTube menjadi panggung baru. Bukan panggung megah, tetapi cukup untuk membuatnya merasa tetap menjadi seniman. Ia terus membuat konten. Terus berdagang. Terus berjalan.

Ketika panggilan tampil di Balai Budaya datang, Silo nyaris tak percaya. Ia diminta membantu pertunjukan Srimulat. Perannya adalah pembantu—peran yang, dalam tradisi Srimulat, justru menuntut stamina dan kepekaan tinggi. Ia harus hadir dari awal hingga akhir, bertemu hampir semua pemain, mengandalkan improvisasi. “Latihan hampir enggak ada. Cuma dijelasin alurnya seperti biasa beberapa jam sebelum pertunjukan. Sisanya improvisasi, dan bisa jalan sendiri,” paparnya. Berat, tetapi menyenangkan.

Di atas panggung Balai Budaya, Silo kembali menemukan dirinya. Lima tahun menjual pentol tidak menghapus naluri panggungnya. Justru mempertebalnya. Tepuk tangan malam itu mungkin tidak mengubah hidupnya secara ekonomi. Tetapi ia mengembalikan sesuatu yang lama hilang: rasa diakui sebagai seniman.

Usai pertunjukan, Silo tahu hidupnya tidak serta-merta berubah. Besok ia akan kembali menjajakan pentol. Kembali membuat konten. Kembali bertahan. Namun kini ia tahu, panggung itu masih ada. Ia belum sepenuhnya ditinggalkan.

Sabtu malam, 27 Desember, Balai Budaya menjadi saksi bahwa Srimulat masih hidup. Bukan hanya di panggung, tetapi di tubuh-tubuh para senimannya—yang terus bertahan, meski lampu panggung sempat lama padam. (Asvin Ellyana)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments