HomePendidikan islamKader Intelektual Muslim ala Khofifah, Panen Prestasi di Al Azhar Kairo

Kader Intelektual Muslim ala Khofifah, Panen Prestasi di Al Azhar Kairo

Oleh: M. Mas’ud Said

Ada cara membangun peradaban yang tidak selalu terdengar gaduh. Ia tidak datang dengan gemuruh panggung, tidak pula membutuhkan sorotan berlebihan. Ia bekerja perlahan, menanam, merawat, memberi ruang tumbuh, lalu suatu ketika menghadirkan buah.

Barangkali begitulah cara Pemerintah Provinsi Jawa Timur di bawah kepemimpinan Khofifah Indar Parawansa membangun kader intelektual Muslim melalui pendidikan di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir.

Program beasiswa bagi mahasiswa Jawa Timur di Al Azhar bukan sekadar program pendidikan. Ia adalah investasi kebudayaan dan sumber daya manusia yang hasilnya mungkin baru terlihat dalam beberapa tahun mendatang. Namun, ketika melihat langsung para mahasiswa Jawa Timur di Kairo, buah dari investasi itu mulai terasa.

Akar mereka tampak kuat. Bahasa Arab mereka terasah. Penguasaan kitab-kitab klasik cukup mendalam. Semangat belajar mereka juga terlihat menonjol. Dari akar yang kuat itulah mulai tumbuh batang keilmuan, ranting prestasi dan buah karya.

Saya dan tim Lembaga Pengembangan Pesantren dan Diniyah (LPPD) Jawa Timur bersama Prof. Abdul Halim Soebahar, Dr. KH Muhaiburrahman dan sejumlah dewan penguji tamu berkesempatan bertandang ke sejumlah tempat tinggal mahasiswa Jawa Timur di kawasan Kairo. Kami berdiskusi, mewawancarai dan melihat langsung kehidupan mereka.

Kesan yang muncul cukup kuat: banyak di antara mereka bukan hanya mampu mengikuti perkuliahan, tetapi juga aktif berkompetisi dan menghasilkan karya.

Sebagian tercatat meraih prestasi dalam kompetisi membaca kitab klasik maupun ajang akademik lainnya. Ada pula yang menulis buku, membuat ulasan, menerjemahkan kitab dan menghasilkan artikel. Mereka tidak hanya belajar teks-teks keislaman, tetapi mulai mengolah pengetahuan itu menjadi gagasan yang relevan dengan kehidupan modern.

Dari sekitar 123 mahasiswa asal Jawa Timur yang mengikuti program pendidikan di Al Azhar, sebagian mulai menunjukkan prestasi yang membanggakan. Bahkan ada mahasiswa yang karena sering menjadi juara akhirnya tidak lagi hanya ditempatkan sebagai peserta, tetapi dipercaya menjalankan peran lain dalam kegiatan akademik dan kompetisi.

Tentu capaian tersebut tidak lahir dari satu program pemerintah saja. Jawa Timur memiliki ekosistem pesantren yang panjang. Sejumlah pesantren juga secara mandiri mengirimkan santrinya ke Al Azhar, antara lain Pondok Modern Darussalam Gontor, Amanatul Ummah, Dalwa Bangil, Tebuireng Jombang dan berbagai pesantren lainnya.

Inilah yang membuat program kaderisasi intelektual Muslim Jawa Timur memiliki akar yang relatif kuat. Pesantren menjadi tanahnya, Al Azhar menjadi ruang pengembangannya, sementara pemerintah berusaha memperkuat ekosistem melalui kebijakan beasiswa, pembinaan, monitoring dan evaluasi. Yang menarik, kehidupan para mahasiswa itu sendiri jauh dari kesan glamor.

Di tengah kota Kairo yang penuh dinamika, sebagian mahasiswa hidup sederhana. Mereka memasak sendiri, bergotong royong memenuhi kebutuhan sehari-hari dan mengatur pengeluaran dengan hemat. Sebagian menjalani tradisi riyadhah, puasa dan ibadah malam sebagai bagian dari disiplin pribadi.

Ketika kami berkunjung, suasana kos dan apartemen mereka justru terasa seperti rumah sendiri. Masakan sederhana yang mereka hidangkan menjadi semacam obat rindu tanah air: ada cita rasa soto Lamongan, rendang, tempe goreng, rawon, sambal terong hingga pecel.

Di balik kesederhanaan itu terdapat semangat akademik yang kuat.

Saya cukup terhentak ketika berdiskusi dengan mereka. Anak-anak muda dari berbagai daerah di Jawa Timur, termasuk dari desa dan lingkungan pesantren, mampu berdialog mengenai Al-Qur’an, tafsir, hadis, fikih, ushul fikih dan sejarah peradaban Islam dengan cukup mendalam.

Bahasa Arab mereka, terutama kemampuan membaca kitab, rata-rata berada pada tingkat yang sangat baik. Lebih dari sekadar kemampuan bahasa, yang terlihat adalah keberanian intelektual untuk berdiskusi dan mengemukakan pandangan.

Dari percakapan tersebut saya menangkap satu hal penting: mereka tidak ingin membawa Islam hanya sebagai pengetahuan masa lalu. Mereka berusaha memahami bagaimana khazanah Islam dapat tetap hidup dalam masyarakat modern. Di titik inilah konsep Islam yang moderat atau wasathiyah menemukan ruang aktualnya.

Al Azhar selama berabad-abad menjadi salah satu pusat keilmuan Islam dunia. Para mahasiswa yang belajar di sana tidak hanya memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga berhadapan langsung dengan tradisi keilmuan Islam yang memiliki sejarah panjang. Karena itu, investasi pendidikan di Al Azhar sebenarnya bukan investasi jangka pendek.

Mulai 2025, Pemprov Jawa Timur melalui LPPD meningkatkan program tersebut dengan memfasilitasi 60 mahasiswa pada jenjang magister yang memenuhi persyaratan. Langkah ini menunjukkan bahwa program mulai bergerak dari sekadar membuka akses pendidikan menuju pembangunan kader pada jenjang keilmuan yang lebih tinggi.

Bidang yang ditekuni pun strategis: tafsir, hadis, ushul fikih, ushuluddin, bahasa Arab dan studi kebudayaan Islam.

Jika dikelola secara konsisten, mereka kelak dapat menjadi mufasir, ahli hadis, akademisi, penulis, penerjemah, pendidik maupun intelektual Muslim yang berkontribusi pada kehidupan keagamaan dan kebudayaan Indonesia.

Tentu, kualitas kader tidak cukup dibangun hanya dengan mengirim mahasiswa ke luar negeri.

Ekosistemnya harus dijaga.

Karena itu, monitoring dan evaluasi menjadi bagian penting. Kemajuan akademik, kemampuan menulis ilmiah, kesehatan, kondisi tempat tinggal, motivasi belajar hingga ketepatan waktu kelulusan perlu diperhatikan. Pembinaan seperti ini penting agar investasi pendidikan tidak berhenti pada keberangkatan, tetapi benar-benar menghasilkan alumni yang berkualitas.

Di sinilah saya melihat pentingnya peran LPPD Jawa Timur dan tim yang ditunjuk untuk melakukan pendampingan serta monitoring.

Program seperti ini juga perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas. Sejumlah negara lain telah lama memberi perhatian besar terhadap kaderisasi mahasiswa Muslim di Al Azhar. Malaysia dan Brunei Darussalam, misalnya, dikenal memiliki perhatian terhadap pendidikan keislaman dan pembinaan mahasiswa di luar negeri. Bahkan keberadaan mahasiswa Muslim dari China di lingkungan Al Azhar menunjukkan bahwa pendidikan Islam semakin menjadi bagian dari jaringan keilmuan global.

Jawa Timur tidak boleh hanya menjadi penonton.

Dengan tradisi pesantren yang panjang dan jumlah lembaga pendidikan Islam yang besar, Jawa Timur memiliki modal sosial yang kuat untuk melahirkan generasi intelektual Muslim yang mampu berkiprah di tingkat nasional maupun internasional.

Program beasiswa Al Azhar menjadi salah satu jalannya.

Pemprov Jawa Timur telah menjalankan program bagi mahasiswa strata satu sejak 2021. Dari program tersebut, hingga kini telah ada 28 sarjana yang menyelesaikan studi dalam berbagai bidang keislaman, termasuk tafsir, hadis, fikih, ushul fikih dan sejarah peradaban Islam.

Angka-angka itu memang belum berbicara banyak jika dilihat hanya sebagai statistik. Tetapi pendidikan memang tidak selalu dapat diukur dengan cara seperti menghitung pembangunan jalan atau gedung.

Pendidikan adalah investasi yang hasilnya sering kali muncul jauh setelah anggaran dikeluarkan.

Seorang sarjana yang hari ini duduk di ruang kuliah Al Azhar mungkin lima atau sepuluh tahun lagi menjadi dosen, penulis, ulama, peneliti, penerjemah atau pemimpin lembaga pendidikan. Ia mungkin pula menjadi rujukan bagi generasi setelahnya. Karena itu, membangun kader intelektual Muslim adalah pekerjaan lintas generasi.

Saya membayangkan para mahasiswa Jawa Timur di Kairo itu seperti tanaman yang sedang tumbuh. Akarnya adalah pesantren dan tradisi keilmuan. Tanahnya adalah kebudayaan Jawa Timur. Airnya adalah pendidikan. Al Azhar menjadi ruang tumbuh yang mempertemukan mereka dengan tradisi intelektual Islam dunia.

Jika dirawat dengan baik, tanaman itu akan tumbuh menjadi pohon yang rindang. Buahnya bukan sekadar gelar akademik, tetapi gagasan, karya, keteladanan dan kontribusi bagi masyarakat.

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan politik dan ekonomi yang sering kali bergerak cepat, pendidikan bekerja dengan cara berbeda. Ia lebih senyap, tetapi dapat meninggalkan pengaruh yang jauh lebih panjang.

Karena itu, program kaderisasi mahasiswa Jawa Timur di Al Azhar layak dipandang sebagai investasi kebudayaan. Khofifah Indar Parawansa tampaknya sedang menanam sesuatu yang hasilnya tidak harus dipanen hari ini.

Ia menanam manusia.

Dan dalam sejarah sebuah bangsa, investasi pada manusia berilmu selalu memiliki kemungkinan menjadi investasi peradaban.

Bila kader-kader muda Jawa Timur itu terus tumbuh dengan tradisi pesantren, kedalaman keilmuan Al Azhar, keterampilan akademik dan semangat pengabdian, bukan tidak mungkin mereka menjadi bagian penting dari wajah Islam Indonesia pada masa depan: berilmu, moderat, mandiri, terbuka dan berakar kuat pada tradisi.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan program ini bukan hanya berapa mahasiswa yang diberangkatkan atau berapa orang yang lulus.

Ukuran yang lebih penting adalah berapa banyak dari mereka yang kelak mampu menyalakan cahaya ilmu di tempat asalnya.

Sebab, kader yang baik bukan hanya yang berhasil pergi jauh untuk belajar, melainkan mereka yang setelah pulang mampu membuat masyarakat di sekitarnya ikut tumbuh.

Penulis adalah M. Mas’ud Said, Direktur Pascasarjana Unisma dan Wakil Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PP ISNU).

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments