
Lewat cerita sederhana sebuah keluarga imigran Indonesia di Amerika, film pendek Daly City mengajak penonton merenungkan makna kejujuran, identitas, dan kebohongan kecil yang kerap lahir demi bisa diterima. Tiga penonton dengan latar belakang berbeda membaca film ini dari sudut moral, emosional, hingga teknis—dan bertemu pada satu hal: kisahnya terasa manusiawi.
SBCNews.id – Daly City adalah film yang memilih jalan sunyi. Ia tidak sibuk memamerkan Amerika sebagai negeri impian, melainkan menempatkannya sebagai ruang adaptasi—tempat identitas diuji, nilai keluarga dinegosiasikan, dan kejujuran kadang harus berhadapan dengan tuntutan untuk “menyesuaikan diri”.
Salah satu kekuatan utama film ini terletak pada karakter Bastian, seorang anak yang menjadi pusat cerita. Ari Dina Krestiawan, akademisi film, mengaku langsung terpikat pada tokoh ini. “Kesan saya yang paling kuat adalah karakter Bastian. Dia anak yang pandai, dan itu diartikulasikan dengan sangat baik oleh pemerannya. Buat aktor kecil, dia memainkan perannya dengan hebat,” ujar dosen Film Universitas Multimedia Nusantara tersebut.
Bagi Ari, perjalanan Bastian adalah pintu masuk menuju dunia nyata—fase ketika seseorang mulai menyadari bahwa kejujuran tidak selalu hitam-putih.
“Film ini seperti perjalanan memahami real world. Kadang kita harus berbohong untuk bisa fit in,” katanya.
Pilihan penyutradaraan Daly City mengikuti semangat yang sama: halus, tenang, dan minim ledakan emosi. Ari menilai gaya ini konsisten, meski bukan seleranya secara pribadi. “Penyutradaraannya subtle dan lembut. Ini bukan jenis film yang saya suka, tapi film bagus dan film yang kita suka kan tidak selalu sama,” ucap Ketua Program Studi Digital Film & Media Production IDS BTEC ini.
Ia juga mencatat bahwa film ini sangat bertumpu pada dialog. “Penceritaannya mengalir lembut, tapi memang tidak ada unsur kejutan yang diberi penekanan kuat. Rutenya dialog, sementara saya pribadi lebih memilih visual,” tambahnya.
Meski demikian, secara struktur, Ari melihat Daly City berdiri di atas fondasi yang solid. “Premisnya kuat karena bicara tentang loss of innocence, baik di lingkungan ibu yang religius maupun ayah di kantor,” tegas Ari. Menurutnya, film ini tepat memilih potongan cerita. “Ini bukan film panjang yang dipendekkan. Banyak film pendek justru gagal karena salah menempatkan titik berceritanya.”
Pandangan yang lebih emosional datang dari Betet Kunamsinam, praktisi film, yang merasakan kehangatan film ini sejak awal. “Yang paling terasa adalah kehangatan keluarga imigran di Amerika, bagaimana mereka menyesuaikan hidup di sana,” tuturnya.
Bagi Betet, kebohongan dalam film ini terasa sangat manusiawi. “Cara film ini membahas kebohongan dalam kehidupan terasa relate dan lumrah terjadi,” katanya. Ia juga menyoroti detail kecil yang justru menjadi jangkar identitas para tokoh. “Sejauh-jauhnya pergi, makanan Indonesia—dan cara makan ‘muluk’ pakai tangan—jadi media mereka berdamai dengan kerasnya hidup.”
Dari sisi teknis, Betet menilai film ini digarap dengan serius. “Shot-shotnya steady, pergerakan kamera minim, dan warna yang dipakai memberi kesan hangat,” ujar pria kelahiran Blitar ini. Ia juga menilai alur ceritanya efektif untuk durasi film pendek. “Tidak bertele-tele, langsung ke inti masalah, dibangun pelan dan runtut. Bahasanya juga natural, campuran Indonesia dan Inggris, bahkan ada satu kalimat Jawa untuk menegaskan identitas,” jelasnya.
Sementara itu, Anang Prakasa melihat Daly City sebagai upaya membangun relasi emosional keluarga imigran dengan lingkungan barunya. “Upaya menciptakan ikatan agar bisa diterima di lingkungan baru itu sangat mudah dipahami,” kata anggota DPRD Kabupaten Kediri yang pernah menempuh studi film di Los Angeles dan Australia ini.
Secara visual, Anang langsung menangkap kualitas teknis film tersebut. “Dari pencahayaan, saya merasakan ini ditangani DOP yang mumpuni,” ujarnya. Meski begitu, ia memberi catatan kritis pada variasi gambar. “Ada adegan percakapan yang sebenarnya bisa dibuat lebih kaya secara visual, tidak hanya diambil lebar terus-menerus.”
Soal pesan, ketiganya bertemu di satu titik yang sama: kejujuran. Anang menyebut film ini mengajarkan pentingnya menjadi apa adanya. “Tidak perlu membuat kebohongan untuk diterima publik. Adegan masak dadar jagung dan kerupuk itu terasa sangat genuine, dan sebenarnya layak dibawa ke potluck,” katanya. Betet merangkum pesan film ini secara singkat namun tegas: “Ini tentang kejujuran.” Sementara Ari menambahkan lapisan moralnya: “Benar dan salah selalu punya konteks.”
Meski mendapat apresiasi, film ini juga memunculkan jarak bagi sebagian penonton. Ari mengaku merasa sedikit asing saat menontonnya. “Mungkin karena saya bukan diaspora. Yang saya rasakan, ini seperti orang yang lebih lama tinggal di luar negeri daripada di Indonesianya,” ujarnya. Ia bahkan mempertanyakan beberapa detail kultural yang menurutnya kurang terasa Indonesia.
Namun justru di situlah tantangan cerita diaspora berada. Daly City membuka ruang diskusi tentang siapa audiens yang ingin disapa. “Ini pertukaran dialog yang harus dibangun jembatannya,” tegas Ari. Tanpa itu, rasa asing akan tetap ada. Betet dan Anang melihatnya dari sudut yang berbeda. Bagi mereka, film ini justru memberi perspektif baru bagi penonton Indonesia tentang kerasnya hidup di luar negeri dan romantika yang dialami para diaspora.
Ketika dibayangkan beredar di festival internasional, ketiganya sepakat bahwa tema universal menjadi kekuatan utama film ini. Loss of innocence, nilai keluarga, serta gegar budaya timur dan barat menjadi pintu masuk bagi penonton global.
Pada akhirnya, Daly City adalah film yang jujur pada dunianya sendiri. Ia tidak mengklaim mewakili seluruh pengalaman diaspora Indonesia, melainkan menghadirkan potongan kecil yang personal, hangat, dan kadang canggung. Sebuah pengingat bahwa hidup di tanah orang lain sering kali bukan tentang menjadi lebih hebat, melainkan tentang belajar bertahan—kadang dengan kejujuran, kadang dengan kebohongan kecil yang terlalu manusiawi.(Vin)


