SBCNews.id — Meta Platforms kembali mengguncang industri teknologi global setelah mulai melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal terhadap sekitar 8.000 pegawai di berbagai negara. Gelombang PHK dimulai dari Singapura pada Rabu (20/5/2026) dini hari, ketika sejumlah karyawan menerima e-mail pemecatan sekitar pukul 04.00 pagi waktu setempat.
Langkah perusahaan induk Facebook, Instagram, dan WhatsApp itu menjadi bagian dari transformasi besar-besaran Meta menuju perusahaan berbasis kecerdasan buatan (AI). Pegawai di Amerika Serikat, Inggris, dan sejumlah negara lain juga dijadwalkan menerima pemberitahuan PHK sesuai zona waktu masing-masing.
PHK dilakukan sebagai upaya Meta meningkatkan efisiensi perusahaan sekaligus mengalihkan sumber daya ke pengembangan teknologi AI yang kini menjadi fokus utama perusahaan.
Jumlah pegawai yang terdampak diperkirakan mencapai sekitar 10 persen dari total tenaga kerja Meta. Sebelum restrukturisasi dilakukan, perusahaan tercatat memiliki kurang dari 80.000 pegawai hingga akhir Maret 2026.
Dalam beberapa pekan terakhir, suasana internal perusahaan disebut dipenuhi ketidakpastian dan kecemasan. Pegawai sebelumnya telah diberi sinyal bahwa PHK besar akan diumumkan pada 20 Mei. Bahkan pada awal pekan ini, sekitar 7.000 pegawai lain dipindahkan ke tim baru yang fokus mengembangkan produk dan agen AI.
Menurut sumber internal perusahaan, divisi engineering dan produk menjadi sasaran utama pemangkasan tenaga kerja. Kepala SDM Meta, Janelle Gale, mengatakan perusahaan kini ingin membentuk struktur organisasi yang lebih ramping dengan tim kecil agar dapat bergerak lebih cepat.
Di saat bersamaan, CEO Meta, Mark Zuckerberg, terus menjadikan AI sebagai prioritas utama perusahaan. Tahun ini, Meta disebut menyiapkan investasi lebih dari 100 miliar dollar AS untuk mempercepat pengembangan teknologi AI dan memperkuat persaingan dengan OpenAI serta Alphabet.
Transformasi besar tersebut memicu keresahan di internal perusahaan. Sejumlah pegawai dilaporkan mulai khawatir kehilangan pekerjaan, bahkan sebagian membawa pulang perlengkapan kantor sebelum pengumuman PHK dilakukan.
Protes juga muncul setelah Meta menjalankan program pelacakan data pegawai untuk kebutuhan pelatihan AI. Program itu disebut mampu merekam aktivitas perangkat kerja pegawai, mulai dari tombol keyboard yang ditekan hingga tampilan layar komputer.
Lebih dari 1.000 pegawai dilaporkan telah menandatangani petisi penolakan terhadap program tersebut. Engineer Meta, Mack Ward, bahkan mengingatkan bahwa perkembangan AI perlu dipertimbangkan secara hati-hati karena dampaknya terhadap masa depan manusia dan dunia kerja.
Meski menuai kritik internal, Meta tetap melanjutkan restrukturisasi dengan membentuk tim baru bernama Applied AI and Engineering yang dipimpin Wakil Presiden Engineering, Maher Saba.
Dilansir dari Kompas.com dan The New York Times.



