SBCNEWS.id – Bursa mata uang kripto terbesar di dunia, Binance, mengalami serangan peretasan besar yang menyebabkan aset digital senilai 6,3 miliar dollar AS atau setara Rp 114,1 triliun dicuri pada Kamis (29/10/2026). Insiden tersebut diduga menjadi salah satu kasus pencurian terbesar dalam sejarah industri kripto, bahkan melampaui peretasan bursa Bybit pada 2025.
Menanggapi kejadian tersebut, Binance menyatakan akan menanggung seluruh kerugian agar dana nasabah tetap terlindungi. Perusahaan mengungkapkan telah mengganti sekitar 90 persen dari total aset yang dicuri menggunakan dana internal dan kas perusahaan. Sementara itu, pemenuhan sisa 10 persen aset masih membutuhkan waktu karena sejumlah aset kripto sulit diperoleh dalam jumlah besar.
Binance juga mengaku telah menyisihkan dana internal lebih dari 6,34 miliar dollar AS untuk memulihkan aset yang hilang. Sebelumnya, perusahaan berhasil membekukan aset hasil pencurian senilai sekitar 3 miliar dollar AS atau Rp 54,3 triliun melalui kerja sama dengan aparat penegak hukum, perusahaan intelijen, dan sejumlah mitra. Layanan penarikan dana yang sempat dihentikan sementara kini mulai kembali tersedia secara bertahap.
Di tengah proses pemulihan, Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) menyatakan Korea Utara bertanggung jawab atas serangan tersebut. FBI mengaitkan aksi peretasan dengan Lazarus Group, kelompok peretas yang juga dikenal sebagai TraderTraitor. Kelompok tersebut diduga mengonversi aset hasil pencurian menjadi Ethereum sebelum memindahkannya melalui layanan keuangan terdesentralisasi dan platform pertukaran instan.
Namun, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan bahwa pemerintahnya belum mengetahui secara pasti pihak yang berada di balik serangan tersebut. Trump mengatakan pemerintah AS masih mempelajari kemungkinan keterlibatan Korea Utara. Di sisi lain, pemerintah Korea Utara membantah tuduhan keterlibatan dalam peretasan Binance. Co-CEO Binance, Richard Teng, menjelaskan bahwa serangan tersebut kemungkinan tidak dilakukan oleh satu orang. Investigasi awal perusahaan menemukan dugaan keterlibatan laptop milik seorang insinyur yang telah diretas sehingga memungkinkan terjadinya penarikan dana tanpa izin. Penyelidikan lanjutan juga menemukan sejumlah titik pelanggaran keamanan lainnya.
Para peretas diduga menggunakan metode canggih untuk menghilangkan jejak aktivitas mereka, termasuk mekanisme penghancuran otomatis yang dapat menghapus perangkat dan rekaman aktivitas selama serangan berlangsung. Kondisi tersebut membuat proses pelacakan dan penyelidikan menjadi lebih sulit. Saat ini, Binance bekerja sama dengan FBI dan Dinas Rahasia Amerika Serikat (US Secret Service) untuk mengidentifikasi pelaku, melacak, membekukan, serta memulihkan aset yang dicuri. Kasus ini kembali menjadi perhatian dunia terhadap ancaman keamanan siber dan kerentanan industri mata uang kripto terhadap serangan peretas berskala besar.



