SBCNews.id — Bau busuk menusuk hidung menyelimuti sepanjang Jalan RW 09 Bulak Cabe, Cilincing, Jakarta Utara. Sumbernya berasal dari Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Bulak Cabe yang kini tak lagi mampu menampung volume sampah warga. Tumpukan sampah setinggi sekitar dua meter meluber hingga memakan badan jalan dan mengganggu aktivitas warga.
TPS yang berada persis di sisi kanan jalan menuju Taman Lestari Cilincing itu hanya berukuran sekitar 6 x 9 meter. Namun, kapasitas terbatas tersebut harus menampung sampah rumah tangga warga setiap hari. Akibatnya, sampah meluber hingga sejauh 1,5 meter ke badan jalan, sementara lebar jalan di lokasi itu hanya sekitar empat meter.
Kondisi tersebut membuat arus lalu lintas tersendat. Padahal, jalan ini menjadi akses utama yang ramai dilalui berbagai jenis kendaraan, mulai dari angkutan Jaklingko, sepeda motor, mobil pribadi, hingga truk berukuran sedang. Kendaraan yang melintas terpaksa bergantian karena hanya satu jalur yang masih bisa dilewati. Saat jam sibuk pagi dan sore hari, kemacetan panjang pun tak terhindarkan.
Ironisnya, meski kondisi TPS sudah meluber ke jalan, warga masih terus membuang sampah di lokasi tersebut. Hampir setiap lima menit, warga datang membawa sampah rumah tangga menggunakan kantong plastik dan diangkut dengan sepeda motor. Jenis sampah yang menumpuk pun beragam, mulai dari sisa makanan, kemasan plastik dan minuman, kayu, triplek, kasur, bantal, sterofoam, hingga batang pohon.
Tak hanya menumpuk, sampah-sampah itu kerap beterbangan ke depan rumah warga dan membuat lingkungan sekitar tampak kumuh. Air lindi yang mengalir dari tumpukan sampah juga menyebabkan jalan di depan TPS menjadi licin, berlumpur, dan menghitam.
Dewi (52), pemilik warung es yang berada tepat di samping TPS, mengatakan kondisi tersebut baru terjadi belakangan ini. Menurut dia, sebelumnya TPS Bulak Cabe masih tertata dan tidak sampai memakan badan jalan. “Dulu kondisinya enggak meluber ke jalan, dan rapi,” ujar Dewi saat ditemui, Kamis (5/2/2026).
Ia menduga, kondisi TPS mulai memburuk sejak musim banjir yang kerap melanda Jakarta dalam beberapa waktu terakhir. Meski berjualan tepat di samping TPS, Dewi mengaku sudah terbiasa dengan bau sampah. Namun, keluhan justru banyak datang dari warga yang tinggal di seberang TPS. “Kalau di sini udah enggak terasa bau karena sudah terbiasa, yang pada protes justru yang di dekat kelurahan,” katanya.
Hingga kini, warga berharap ada penanganan serius dari pihak terkait agar persoalan sampah di TPS Bulak Cabe tidak terus berlarut dan semakin membahayakan kenyamanan serta keselamatan pengguna jalan.
Sumber:Kompas.com



